Australia Tidak Terima Atas Tarif 12,5 Persen yang Diberlakukan AS

waktu baca 3 menit

Istanbul (KABARIN) - Pemerintah Australia melayangkan protes terhadap rencana Amerika Serikat (AS) yang akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10 persen hingga 12,5 persen terhadap barang impor dari puluhan negara, termasuk Australia.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas yang selama ini menjadi dasar hubungan ekonomi antara kedua negara.

"Ada perbedaan ideologi di mana pemerintah Amerika Serikat telah melanggar kesepahaman yang telah berjalan selama puluhan tahun - bahwa tarif tidak memberikan dampak positif bagi negara yang menerapkannya," ujar Albanese dalam laporan ABC, Kamis.

Rencana tarif baru itu disebut berkaitan dengan dugaan penggunaan kerja paksa dalam proses produksi barang impor dari sedikitnya 60 negara.

Padahal sebelumnya, usulan tarif sebesar 10 persen untuk produk asal Australia sempat dibatalkan oleh Mahkamah Agung Amerika Serikat pada Februari lalu.

Menurut Albanese, penerapan tarif terhadap ekspor Australia tidak memiliki dasar yang kuat dan bertentangan dengan Perjanjian Perdagangan Bebas atau Free Trade Agreement (FTA) yang telah lama mengikat kedua negara sekutu tersebut.

"Tarif apa pun yang dikenakan pada ekspor Australia ke AS adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan tidak konsisten dengan perjanjian perdagangan bebas (FTA)," tegasnya.

Ia juga menilai kebijakan tarif justru akan merugikan masyarakat Amerika Serikat sendiri karena berpotensi membuat harga barang dan jasa menjadi lebih mahal.

"Tarif tersebut justru meningkatkan biaya barang dan jasa bagi konsumen di negara yang menerapkannya... padahal perdagangan bebas adalah demi kepentingan ekonomi global," ujar Albanese.

Selain substansi kebijakan, Albanese juga menyoroti cara pemerintah AS mengambil keputusan tersebut. Menurutnya, Australia tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait rencana tarif baru itu.

"Kebijakan ini dikeluarkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Salah satu hal yang kami harapkan dalam hubungan internasional adalah kepastian. Australia dan Amerika Serikat adalah sekutu penting," katanya, menambahkan.

Albanese mengaku kecewa karena kebijakan perdagangan AS belakangan dinilai sering berubah-ubah, namun tetap memiliki dampak yang merugikan negara mitra.

”Sangat disayangkan bahwa serangkaian keputusan yang terus bergulir - beberapa di antaranya berubah dari waktu ke waktu - tetapi semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu bahwa Amerika Serikat kini merupakan pendukung kebijakan tarif," kata dia.

Pandangan serupa juga disampaikan Menteri Perdagangan Australia Don Farrell. Ia menilai rencana tarif tambahan yang akan diterapkan AS merupakan kebijakan yang tidak adil bagi negara-negara mitra dagang, termasuk Australia.

Keberatan tersebut bahkan telah disampaikan langsung kepada pemerintah Amerika Serikat. Farrell diketahui bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer di sela-sela pertemuan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) di Paris pada Rabu malam (3/6).

Pemerintah Australia kini terus mendorong dialog dengan Washington agar kebijakan tersebut dapat ditinjau kembali dan tidak mengganggu hubungan perdagangan yang selama ini terjalin erat antara kedua negara.

Sumber: Anadolu_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka