Seekor Orang Utan Melahirkan di Cagar Alam Jantho Aceh

waktu baca 3 menit

Kelahiran orang utan ini membuktikan perlindungan habitat konsisten, kita mampu memulihkan populasi satwa endemik yang terancam punah

Banda Aceh (KABARIN) - Kabar baik datang dari dunia konservasi satwa Indonesia. Seekor Orang Utan Sumatera (Pongo abelii) berhasil melahirkan anaknya di kawasan pusat reintroduksi Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyebut kelahiran ini menjadi kabar menggembirakan sekaligus bukti bahwa upaya rehabilitasi dan pelepasliaran orang utan ke habitat alaminya berjalan dengan baik.

Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan bayi orang utan tersebut lahir dari induk bernama Bulan. Bulan merupakan orang utan hasil rehabilitasi yang telah hidup bebas di alam liar sejak dilepasliarkan pada 2018.

"Sejak sebulan lalu, Bulan terpantau bergerak aktif di tajuk hutan sambil menggendong bayinya. Saat terpantau, kata dia, Bulan terlihat aktif bergerak dan menunjukkan perilaku protektif," kata Ujang Wisnu Barata.

Menurutnya, bayi orang utan tersebut terus berada dalam dekapan sang induk. Bayi berjenis kelamin jantan itu diperkirakan berusia sekitar satu bulan dan terlihat dalam kondisi sehat.

Kelahiran ini semakin istimewa karena Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara khusus memberikan nama kepada bayi orang utan tersebut, yaitu Badar. Nama tersebut memiliki makna bulan purnama dan diharapkan menjadi simbol harapan baru bagi kelestarian populasi orang utan di alam liar.

"Kelahiran orang utan ini membuktikan perlindungan habitat konsisten, kita mampu memulihkan populasi satwa endemik yang terancam punah. Badar diharapkan tumbuh sehat dan membawa secercah harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan," kata Ujang Wisnu Barata.

Perjalanan hidup Bulan sendiri terbilang mengharukan. Ia merupakan korban perdagangan satwa liar yang berhasil diselamatkan di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, pada 2014 saat usianya masih sekitar dua tahun.

Setelah diselamatkan, Bulan menjalani rehabilitasi selama empat tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orang Utan YEL-SOCP Sibolangit, Sumatera Utara. Pada 2018, Bulan akhirnya dilepasliarkan ke kawasan Pusat Reintroduksi Orangutan di Cagar Alam Jantho.

Ujang mengatakan perjalanan Bulan dari korban perdagangan satwa liar hingga kini menjadi induk di habitat alaminya menunjukkan bahwa program rehabilitasi dan pelepasliaran satwa dapat memberikan hasil nyata bagi upaya konservasi.

Menurutnya, keberhasilan reproduksi di alam menjadi salah satu indikator penting bahwa orang utan hasil rehabilitasi mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak secara alami.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan habitat dan pencegahan perdagangan satwa liar masih menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan hidup orang utan di Indonesia.

"Kelahiran ini membuktikan bagaimana orang utan sebelumnya korban perdagangan satwa liar dapat memperoleh kesempatan hidup dan berkembang biak di alam. Keberhasilan seperti ini hanya dapat terus berlanjut apabila habitatnya tetap terlindungi," kata Ujang Wisnu Barata.

Orang Utan Sumatera merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia. Berdasarkan daftar status konservasi internasional, spesies yang hanya hidup alami di Pulau Sumatera tersebut berstatus kritis atau berada pada tingkat risiko sangat tinggi untuk punah di alam liar.

Karena itu, kelahiran Badar di Cagar Alam Jantho menjadi kabar yang tidak hanya membahagiakan bagi para pegiat konservasi, tetapi juga memberi harapan baru bagi masa depan Orang Utan Sumatera di habitat alaminya.

Baca juga: BKSDA Kaltim Fokus Sambungkan Jalur Hidup Orangutan

Baca juga: Satu Orang Utan Melahirkan Anaknya di Taman Nasional Gunung Leuser

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka