Lumajang, Jawa Timur (KABARIN) - Aktivitas Gunung Semeru di Jawa Timur masih didominasi erupsi dan gempa letusan. Gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu tercatat mengalami sejumlah aktivitas vulkanik dalam enam jam terakhir pada Senin (8/6).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan bahwa selama periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, pihaknya mencatat belasan gempa letusan yang terjadi di kawasan gunung tersebut.
"Tercatat 16 kali gempa letusan dengan amplitudo 13-22 mm, dan lama gempa 69-122 detik pada Senin selama enam jam terakhir pada pukul 06.00 hingga 12.00 WIB," kata Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Selain gempa letusan, Gunung Semeru juga mengalami empat kali gempa guguran dengan amplitudo 2-3 mm dan durasi gempa antara 31 hingga 110 detik.
Aktivitas lainnya yang turut terekam yakni dua kali gempa embusan dengan amplitudo 2-6 mm dan lama gempa 30-59 detik. Sementara itu, tercatat pula lima kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 13-39 mm, S-P 15-17 detik, dan lama gempa mencapai 40 hingga 1.339 detik.
Dari pengamatan visual, kondisi Gunung Semeru terlihat cukup bervariasi, mulai dari tampak jelas hingga tertutup kabut. Asap yang keluar dari kawah utama terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis sampai sedang dan tinggi sekitar 100 hingga 300 meter dari puncak.
"Cuaca cerah, angin lemah ke arah barat dan barat laut," katanya.
Sigit menjelaskan bahwa sejak pagi hari, Gunung Semeru tercatat mengalami lima kali erupsi. Salah satu erupsi yang cukup menonjol terjadi pada pukul 11.16 WIB.
"Erupsi kelima terjadi pada pukul 11.16 WIB dan tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak atau 4.376 mdpl," ujarnya.
Saat ini, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berada pada Status Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait demi menghindari risiko bencana.
Sigit mengingatkan bahwa masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar area tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan ini berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
"Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," kata Sigit.
Ia juga mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat cuaca ekstrem atau hujan turun di sekitar kawasan gunung.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ungkap Sigit.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih cukup tinggi, masyarakat di sekitar Gunung Semeru diharapkan terus memantau informasi resmi dari petugas dan tidak memasuki area yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
Sumber: ANTARA