Biaya Bahan Bakar Maskapai AS Melonjak 78 Persen, Tertekan Konflik Timur Tengah

waktu baca 2 menit

New York City (KABARIN) - Maskapai penerbangan di Amerika Serikat mencatat lonjakan tajam biaya bahan bakar pada April 2026 seiring meningkatnya harga energi akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.

Data Bureau of Transportation Statistics (BTS) menunjukkan maskapai-maskapai AS menghabiskan hampir 6,5 miliar dolar AS untuk bahan bakar selama April. Angka tersebut meningkat lebih dari 26 persen dibandingkan Maret dan melonjak 78 persen secara tahunan.

Kenaikan biaya operasional itu dipicu oleh melonjaknya harga bahan bakar jet yang mencapai 4,11 dolar AS per galon pada April. Harga tersebut naik 94 sen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 1,81 dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tekanan biaya bahan bakar turut mendorong revisi proyeksi kinerja industri penerbangan global. Dalam laporan terbaru, International Air Transport Association memperkirakan maskapai penerbangan hanya akan membukukan laba bersih gabungan sebesar 23 miliar dolar AS pada tahun ini, lebih rendah 18 miliar dolar AS dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Asosiasi yang mewakili lebih dari 370 maskapai di berbagai negara tersebut juga memperkirakan laba bersih per penumpang turun dari 9,10 dolar AS pada 2025 menjadi 4,50 dolar AS pada 2026.

Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, menyatakan konflik yang melibatkan Iran serta kenaikan harga bahan bakar telah memperburuk prospek industri penerbangan global.

Tingginya biaya operasional bahkan telah memukul sejumlah maskapai. Salah satunya adalah Spirit Airlines yang menghentikan operasinya pada awal Mei setelah dua kali mengajukan perlindungan kebangkrutan dalam kurun dua tahun terakhir.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik masih menjadi salah satu tantangan terbesar bagi industri penerbangan global sepanjang 2026.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka