Korban Tewas Gempa M 7,8 di Filipina Bertambah Jadi 37 Orang

waktu baca 3 menit

Istanbul (KABARIN) - Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (8/6) terus bertambah. Hingga Selasa, otoritas setempat mencatat 37 orang tewas dan empat lainnya masih dinyatakan hilang.

Tim penyelamat masih melakukan operasi pencarian di sejumlah daerah terdampak paling parah di Pulau Mindanao. Gempa yang berpusat di lepas pantai Provinsi Sarangani pada pukul 07.37 waktu setempat itu menyebabkan kerusakan besar, mulai dari bangunan runtuh, gangguan layanan listrik dan air bersih, hingga tanah longsor di beberapa wilayah.

Wakil Juru Bicara Kantor Pertahanan Sipil Filipina (OCD) Diego Mariano menyebutkan sebanyak 33 korban jiwa berasal dari wilayah Soccsksargen. Rinciannya, 18 orang meninggal di Provinsi Sarangani, 12 orang di Kota General Santos, dan tiga orang di South Cotabato. Sementara itu, empat korban lainnya dilaporkan berasal dari Provinsi Davao.

Juru Bicara OCD Junie Castillo menjelaskan mayoritas korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan dan struktur yang roboh saat gempa terjadi.

Selain korban jiwa, sedikitnya 479 orang mengalami luka-luka. Sebanyak 456 korban luka tercatat di Region 12, sedangkan 23 lainnya berada di Provinsi Davao.

Bencana tersebut berdampak pada sekitar 88.000 warga di kawasan selatan Mindanao. Dari jumlah itu, 22.690 orang terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak atau dinilai tidak aman untuk ditempati. Banyak warga memilih bertahan di ruang terbuka akibat gempa susulan yang masih terjadi.

Operasi pencarian dan penyelamatan saat ini difokuskan di Kota General Santos dan Provinsi Sarangani yang mengalami dampak paling besar.

Pemerintah Filipina melaporkan sembilan jembatan dan 19 ruas jalan mengalami kerusakan. Kerugian infrastruktur sementara diperkirakan melampaui 900 juta peso Filipina atau sekitar Rp264 miliar.

Di sektor permukiman, sebanyak 1.889 rumah terdampak, termasuk sekitar 1.500 unit yang hancur total. Nilai kerugian properti diperkirakan mencapai 15 juta peso Filipina atau sekitar Rp4,4 miliar. Namun, angka tersebut masih berpotensi bertambah karena proses pendataan terus berlangsung.

Untuk menampung warga terdampak, OCD tengah menyiapkan kawasan tenda darurat bagi mereka yang belum dapat kembali ke rumah masing-masing.

Sementara itu, sektor pendidikan juga mengalami dampak signifikan. Departemen Pendidikan Filipina mencatat 1.159 ruang kelas di 231 sekolah negeri yang tersebar di lima wilayah mengalami kerusakan berdasarkan hasil penilaian awal.

Usai gempa utama terjadi, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik Amerika Serikat sempat mengeluarkan peringatan potensi tsunami dengan gelombang lebih dari tiga meter di sejumlah wilayah pesisir. Namun, peringatan tersebut kemudian dicabut oleh Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina setelah hasil pemantauan menunjukkan tinggi gelombang tidak cukup besar untuk menimbulkan kerusakan.

Sebelumnya, pemerintah Filipina dan Indonesia sempat mengimbau warga di kawasan pesisir untuk mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi.

Wilayah terdampak juga masih diguncang gempa susulan. Sekitar dua jam setelah gempa utama, terjadi gempa berkekuatan magnitudo 6,1. Pada Selasa, gempa susulan berkekuatan magnitudo 5,1 kembali tercatat berdasarkan data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).

Rangkaian gempa susulan tersebut memicu kekhawatiran akan munculnya kerusakan tambahan sekaligus memperlambat proses pencarian dan penyelamatan korban.

Sumber: Anadolu_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka