Antrean Pertalite Mengular di SPBU Jakbar, Warga Beralih Usai Harga Pertamax Naik

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Antrean panjang kendaraan roda dua terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU di wilayah Jakarta Barat pada Rabu siang. Kondisi ini terutama terlihat pada jalur pengisian bahan bakar bersubsidi Pertalite, yang dipadati kendaraan setelah adanya kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax.

Di SPBU Jalan Jakarta Outer Ring Road atau JORR Cengkareng, antrean motor di jalur Pertalite tampak mengular hingga ke area pintu masuk SPBU. Sementara itu, jalur pengisian Pertamax dan Pertamax Turbo justru terlihat lebih lengang.

Di lokasi tersebut, antrean Pertalite mencapai sekitar 20 motor yang didominasi pengemudi ojek online, kurir logistik, ibu rumah tangga, hingga pelajar. Sebaliknya, hanya beberapa kendaraan yang terlihat mengisi Pertamax.

Pemandangan serupa juga terjadi di SPBU Jalan Raya Duri Kosambi, Cengkareng, di mana belasan pengendara motor rela menunggu cukup lama di bawah terik matahari demi mendapatkan Pertalite.

Sejumlah warga mengaku terpaksa mengubah pilihan bahan bakar demi menekan biaya operasional harian yang semakin terasa berat.

Dani (28), warga Cengkareng Timur, mengatakan dirinya kini memilih beralih ke Pertalite setelah sebelumnya rutin menggunakan Pertamax. Ia juga sudah siap menghadapi antrean yang lebih panjang di SPBU.

"Udah ketebak, pasti bakal antre panjang lah Pertalite. Siap-siap aja, kalau ngisi bensin, harus luangin waktu dulu, jangan mepet," kata Dani di Jakarta, Rabu.

Sementara itu, Afrizal (26), pengemudi ojek online, mengaku terpaksa membeli Pertamax sebesar Rp20 ribu sebagai langkah darurat agar tetap bisa menyelesaikan orderan.

"Terpaksa geser ke Pertamax karena antrean Pertalite panjang banget, sementara saya lagi ngejar orderan. Ini cuma buat nyambung jalan sekadarnya. Nanti malam, pas sudah sepi, baru antre Pertalite lagi untuk isi penuh," ujar Afrizal.

Ia juga menyoroti dampak kenaikan harga yang membuat jumlah BBM yang bisa dibeli dengan uang yang sama menjadi berkurang.

Pengendara lain, Syarif (42), mengkhawatirkan adanya dampak lanjutan dari meningkatnya peralihan konsumen ke BBM subsidi, yang berpotensi memicu kelangkaan Pertalite.

Menurutnya, kondisi ekonomi yang semakin berat membuat banyak pengendara harus lebih berhitung dalam mengatur pengeluaran harian.

"Kalau saya, memang dari awal pakai Pertalite, tapi takutnya nanti malah langka karena semua orang pindah ke subsidi. Kondisi ekonomi sekarang makin berat, belanja dapur mahal, makan di warteg naik, ditambah beban bensin ini," ungkapnya.

Untuk mengakali pengeluaran, ia mengaku mulai menunda jadwal servis motor yang biasanya dilakukan rutin setiap bulan.

"Biaya servis dan oli impor juga ikut naik. Paling diakali dengan memundurkan jadwal servis, yang biasanya sebulan sekali, jadi dua bulan sekali," ucap Syarif.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga telah melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi mulai 10 Juni 2026. Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax naik sekitar Rp3.950 per liter dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

​Berikut daftar lengkap harga BBM Pertamina di wilayah Jabodetabek per 10 Juni 2026:

- Solar Subsidi (Biosolar): Rp6.800 per liter
- Pertalite (RON 90): Rp10.000 per liter
- Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter (sebelumnya Rp 12.300 per liter)
- Pertamax Green 95 (RON 95): Rp17.000 per liter (sebelumnya Rp 12.900 per liter)
- Pertamax Turbo (RON 98): Rp20.750 per liter
- Dexlite (CN51): Rp23.000 per liter
- Pertamina Dex (CN53): Rp24.800 liter

Hingga berita ini diturunkan, antrean di sejumlah SPBU di kawasan Jakarta Barat dilaporkan masih fluktuatif, namun cenderung padat pada jam-jam sibuk.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka