Jakarta (KABARIN) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa prediksi musim di Indonesia memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi akibat interaksi berbagai faktor laut berskala besar serta kondisi geografis kepulauan yang unik.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers “Perkembangan Musim Kemarau Indonesia 2026” di Jakarta, Rabu, menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi pola musim di Indonesia.
“Suhu muka laut perairan Indonesia mempengaruhi karakter musim satu dua bulan ke depan. Lalu Samudera Hindia dengan IOD memiliki pengaruh terhadap curah hujan khususnya bagian barat, serta Samudera Pasifik dengan El Nino dan La Nina yang mempengaruhi curah hujan dalam skala inter-tahunan,” kata dia.
Ia menjelaskan, selain faktor global tersebut, kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan dengan banyak pegunungan turut memperumit pola iklim lokal. Hal ini menyebabkan munculnya variasi cuaca yang sangat spesifik antarwilayah.
Sebagai contoh, wilayah pesisir barat Sumatera memiliki pola curah hujan berbeda dengan sisi timurnya seperti Riau dan Jambi akibat pengaruh pegunungan Bukit Barisan. Sementara itu, Palu di Sulawesi Tengah memiliki karakter iklim yang lebih kering dan panas dibanding wilayah Sulawesi lainnya.
“Hal tersebut yang membuat prediksi iklim di Indonesia menjadi sangat menantang karena sifat lokalnya, juga adalah kondisi karakteristik wilayah tropis yang tentunya berbeda dengan wilayah lain seperti di subtropis,” ujarnya.
BMKG juga mencatat adanya dinamika pergeseran musim kemarau yang meluas pada pertengahan 2026. Pada Mei, kekeringan terpantau di 200 zona musim atau sekitar 11,83 persen daratan, dan diperkirakan meningkat menjadi 31,6 persen pada Juni, mencakup wilayah seperti selatan DKI Jakarta hingga sebagian Kalimantan.
Pada Juli, kemarau diproyeksikan meluas ke 66 zona musim tambahan, meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian Sulawesi, hingga Maluku Utara.
Meski demikian, BMKG juga menemukan adanya wilayah dengan kondisi lebih basah dari normal, seperti di sebagian Bengkulu, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Memasuki akhir tahun, BMKG memproyeksikan musim hujan mulai muncul pada Oktober dan meluas pada November, sebelum mencapai puncaknya pada Desember dengan curah hujan kategori menengah hingga tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia.
Sumber: ANTARA