Jelang Laga Prancis vs Senegal: Duel Klasik Sejak Kolonial

waktu baca 5 menit

Jika nanti Les Bleus berhasil membalas kekalahan dari Senegal pada 2002, maka kredit terbesar harus diberikan kepada Deschamps.

Jakarta (KABARIN) - Prancis mulai hadir di Senegal pada 1659 dan secara bertahap menjadikannya koloni hingga berada sepenuhnya di bawah kekuasaan kolonial pada abad ke-19. Senegal kemudian memperoleh kemerdekaan pada 4 April 1960.

Sebelum merdeka, wilayah Senegal merupakan bagian dari Imperium Prancis. Karena itu, dalam catatan sejarah FIFA, Senegal dianggap turut berada dalam entitas politik yang mewakili Prancis saat lima edisi pertama Piala Dunia digelar, yakni dari 1930 hingga 1954.

42 tahun setelah memperoleh kemerdekaan, Senegal melakukan debut Piala Dunia pada 2002, ketika Jepang dan Korea Selatan menjadi tuan rumahnya. Mereka langsung menggebrak untuk mengakhiri Piala Dunia perdananya dengan status perempat finalis.

Piala Dunia 2026 adalah Piala Dunia keempat yang diikuti Senegal dan ketiga berturut-turut sejak 2018 dan 2022 ketika mereka finis pada babak 16 besar.

Juara Afrika 2021 dan runner up Piala Afrika 2002, 2019, dan 2025 ini memiliki kaitan emosi dan budaya yang kuat dengan Prancis.

Hal itu terjadi bukan saja karena Senegal bekas jajahan Prancis dan salah satu anggota Persemakmuran Prancis atau La Francophonie, tapi juga karena banyak pemain Senegal memiliki jejak Prancis.

Sepuluh dari 26 pemain Senegal lahir di Prancis, bahkan semua dari tiga penjaga gawang mereka, termasuk kiper utama Edouard Mendy.

Seluruh dari 26 pemain Senegal itu bermain di klub-klub luar Senegal, yang sebagian besar di Eropa di mana Liga Inggris dan Liga Prancis menjadi penyumbang terbesar bagi skuad Lion Teranga.

Uniknya, Prancis sendiri tak jauh-jauh dari Afrika, karena 10 dari 26 pemain Les Blues memiliki darah Afrika, termasuk N'Golo Kante, Aurelien Tchouameni, Ousmane Dembele, Kylian Mbappe, Rayan Cherki, dan Michael Olise.

Bahkan salah satu dari tiga penjaga gawang mereka, Brice Bamba, dilahirkan di Kongo.

Uniknya, akar Prancis juga merambat ke tim-tim selain Senegal.

Total 75 pemain kelahiran Prancis bermain dalam Piala Dunia 2026, dengan proporsi terbesar membela Senegal, Aljazair, Haiti, dan Kongo, yang semuanya bekas jajahan Prancis.

Namun, hanya Prancis yang paling sering mengikuti Piala Dunia, bahkan dua kali menjuarainya pada 1998 dan 2018, serta runner up pada 2006 dan 2022.

Tetap kuatkah?

Juara Eropa dua kali itu hanya absen enam kali dari 23 edisi Piala Dunia sejak 1930. Tapi sejak menjuarai Piala Dunia 1998, Les Bleus tak pernah absen menjadi peserta Piala Dunia.

Dalam Piala Dunia 2026, Prancis adalah satu dari dua tim yang paling dijagokan menjadi juara, selain Spanyol.

Juara dunia Argentina yang mengalahkan mereka dalam final empat tahun lalu di Qatar saja kurang difavoritkan dibandingkan dengan mereka.

Mereka akan masuk lapangan Stadion MetLife di Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada Rabu dini hari pukul 02.00 WIB, sebagai tim yang menjuarai Grup D Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa setelah memenangkan lima pertandingan dan sekali seri.

Tumbang 1-2 di tangan Pantai Gading dalam salah satu dari empat pertandingan persahabatan menjelang Piala Dunia 2026, Prancis tetap kuat setelah menaklukkan Brasil, Kolombia, dan Irlandia Utara.

Namun, apakah mereka akan tetap kuat ketika menghadapi Senegal nanti, masih menjadi pertanyaan. Hal itu karena dalam satu-satunya pertemuan dengan Senegal sebelum ini, pada fase grup Piala Dunia 2002 tanggal 31 Mei, Prancis menyerah 0-1.

Prancis juga menjadi tim yang kalah dalam pertandingan fase grup saat menghadapi tim-tim Afrika dalam tiga dari empat Piala Dunia terakhir. Dua tim Afrika lain yang menumbangkan Prancis adalah Afrika Selatan pada 2010 dan Tunisia pada 2022.

Itu bisa menghantui Prancis, tapi kenangan pahit Piala Dunia 2002 adalah mungkin yang paling dikenang mereka.

Tahun itu gol semata wayang Papa Bouba Diop membawa Senegal menumbangkan Prancis yang diperkuat trio bomber jaminan gol; Thierry Henry, David Trezeguet dan Djibril Cisse.

Saat itu Prancis mendominasi laga dengan penguasaan dan penciptaan peluang gol yang superior atas Senegal. Tetapi tetap saja kalah.

Senegal sendiri tampaknya akan memperlakukan laga ini dengan rujukan sukses 2002.

Mereka akan tetap bermain dalam nafas filosofi permainan yang mengandalkan organisasi pertahanan yang kuat dan transisi menyerang yang cepat nan presesi.

Hal itu pula yang menjadi fondasi sukses Senegal belakangan tahun ini, sampai mereka menjuarai Piala Afrika 2025, sebelum predikat itu dicabut karena insiden walk out dalam final yang membuat trofi juara kemudian diserahkan kepada Maroko.

Ambisi Deschamps

Sejak debut pada Piala Dunia 2002, Senegal terus berkembang menjadi tim yang kuat yang konsisten memadukan keterampilan, kecepatan, dan kecerdasan taktis.

Prancis pantas waspada menghadapi tim yang dikapteni Kalidou Koulibaly itu.

Lain dari itu, Prancis juga menghadapi skuad yang akrab dengan kompetisi level atas Eropa, dan paham struktur serta pola bermain Les Bleus, terutama karena delapan anggota skuad mereka bermain di Liga Prancis.

Walau Les Bleus tidak merepresentasikan Liga Prancis, tapi tim-tim Prancis pada umumnya bermain dalam pola bermain yang mirip seperti dimainkan timnas Prancis.

Filosofi sepak bola Prancis sendiri memadukan teknik tingkat tinggi dengan kemampuan taktik yang adaptif, keprimaan fisik, dan ruang lapang kepada semua pemain untuk mengekspresikan kelebihan mereka.

Les Bleus harus awas menghadapi lawan yang memprioritaskan adu fisik, pressing tinggi, dan transisi dari bertahan ke menyerang yang cepat, dengan cara memasang tiga atau lima gelandang dalam formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1.

Tetapi Didier Deschamps yang melatih Prancis sejak 2012 selalu memiliki cara bagaimana mengatasi semua jenis lawan, apalagi tim berorientasi pada permainan terbuka seperti Senegal.

Deschamps yang membidik final Piala Dunia ketiga berturut-turut dan orang ketiga di dunia yang sukses menjuarai Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih setelah Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer, akan mengoptimalkan kelebihan skuad bertabur bintangnya dan pengalamannya sendiri dalam mengakali berbagai situasi yang dihadapi timnya selagi bertanding.

Prinsip kerja kepelatihannya berpijak pada analisis tajam pertandingan, penekanan penguasaan bola dan pentingnya transisi.

Dengan formula itu, Deschamps berhasil membawa Prancis ke level puncak sehingga federasi sepak bola Prancis tak mau pindah ke lain hati.

Dua kali menjadi finalis Piala Dunia yang salah satunya berakhir trofi juara pada 2018, runner up Euro 2016 serta semifinal Euro 2024, adalah buktinya.

Jika nanti Les Bleus berhasil membalas kekalahan dari Senegal pada 2002, maka kredit terbesar harus diberikan kepada Deschamps.

Tapi Pape Thiaw yang menjadi pemain yang tak diturunkan saat Senegal menggebuk Prancis 1-0 pada Piala Dunia 2002 itu, tak akan membiarkan Senegal langsung kalah dalam laga pertamanya di Grup I Piala Dunia 2026 ini.

Sebaliknya dia akan berusaha menularkan spirit 2002 kepada pemain-pemain Senegal, untuk memberi luka kepada Kylian Mbappe cs seperti dilakukan tim Afrika lainnya, Tunisia, pada laga ketiga fase grup Piala Dunia 2022.

Baca juga: Prancis Akan Hadapi Ujian Perdana saat Menghadapi Senegal

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka