Jakarta (KABARIN) - Rivalitas antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi mengendur setelah Messi meraih trofi Piala Dunia, satu-satunya gelar yang lama luput dari genggamannya. Momen itu hadir ketika ia membawa Argentina menjadi juara di Qatar pada 2022.
Messi telah mendapatkan apa yang selama ini dia dambakan, sedangkan Ronaldo masih menanti kesempatan untuk mewujudkan impian yang sama.
Oleh karena itu, salah satu hal yang menjadi pusat perhatian dalam Piala Dunia 2026 adalah sepak terjang striker Portugal berusia 41 tahun itu.
Dia akan selalu menjadi fokus ketika Portugal bertanding, termasuk dalam partai pertama Grup I yang mempertemukan mereka dengan Republik Demokratik Kongo di Houston Stadion, Houston, Amerika Serikat pada Rabu (17/6) tengah malam pukul 24.00 WIB.
Ronaldo akan memulai perjalanan terakhirnya untuk menyamai pencapaian Messi dan sekaligus menyempurnakan pencapaian-pencapaiannya di tingkat individual dan tim, yang dia dapatkan dalam 20 tahun terakhir.
Messi sudah tak lagi mengejar apa yang dikejar Ronaldo. Dia kini lebih berusaha mengantarkan Argentina menyamai Brasil dan Italia, sebagai tim yang sukses mempertahankan gelar juara dunia, selain menjadi orang Argentina kedua setelah Daniel Passarella yang dua kali mengangkat trofi Piala Dunia, dan pencetak gol terbanyak turnamen ini.
Berusia tiga tahun lebih tua dari Messi, Ronaldo sebenarnya sudah tergolong uzur untuk ukuran pesepak bola profesional. Namun, menjelang Piala Dunia 2026, ia tetap menjadi magnet perhatian. Bahkan, ia bersiap menjadi pemain tertua kedua yang pernah tampil di putaran final Piala Dunia setelah Roger Milla. Sorotan terhadap Ronaldo pun semakin besar karena Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi penampilan keenam sekaligus yang terakhir dalam kariernya.
Ronaldo berada di bawah Miroslav Klose dan Messi sebagai pesepak bola yang mencetak gol paling banyak dalam Piala Dunia.
Klose mencetak 16 gol dari empat Piala Dunia, Messi melakukan pencapaian sama dari enam Piala Dunia, setelah mencetak hattrick saat Argentina mengalahkan Aljazair 3-0 dalam laga Grup J Piala Dunia 2026.
Ronaldo sendiri baru membuat 15 gol dari lima Piala Dunia.
Dengan demikian, misi Ronaldo mendadak bertambah, dengan kembali bertarung melawan Messi guna menjadi pencetak gol terbanyak dalam Piala Dunia.
Mitra hebat
Peluang itu tetap besar karena Ronaldo memiliki mitra-mitra hebat dalam unit serangan Portugal yang bisa memudahkannya mencetak gol.
Selecao yang lolos ke Piala Dunia 2026 setelah memuncaki Grup F kualifikasi zona Eropa, dianugerahi para gelandang dan winger yang terampil.
Mereka memiliki gelandang bertahan terhebat di dunia pada diri Vitinha, yang menjadi fondasi sukses Paris Saint Germain dalam dua kali berturut-turut menjuarai Liga Champions.
Ronaldo juga memiliki mitra yang membuatnya dimanjakan oleh umpan-umpan matang dari si raja assist Liga Inggris, Bruno Fernandes, yang kini lebih mau berkorban, termasuk dalam memberi ruang kepada Ronaldo.
Ronaldo dan pelatih Roberto Martinez juga memiliki Pedro Neto, Francisco Conceicao, Bernardo Silva, dan Rafael Leao yang menjadi opsi-opsi yang sama bagus dan sama mautnya sebagai pengapit Ronaldo, di kedua sayap serangan Portugal.
Masih ada Joao Neves dan Nune Mendes, yang bersama Vitinha, berhasil mengubah PSG menjadi klub sepak bola terbaik di Eropa saat ini.
Jika Neves sering dipasang sejajar dengan Vitinha sebagai poros ganda permainan Portugal, maka Mendes adalah satu dari dua pelindung utama sayap pertahanan Portugal, bersama Joao Cancelo.
Jantung pertahanan bakal tetap ditempati duo bek tengah, Goncalo Inacio dan Ruben Dias, sedangkan Diogo Costa yang piawai mementahkan tendangan penalti lawan, menjadi andalan Roberto Martinez di tiang gawang.
Mereka adalah pemain-pemain yang paling mungkin dipasang sebagai starter Portugal oleh Martinez.
Tapi pemain-pemain yang diturunkan belakangan juga memiliki kualitas sama, sehingga lawan tetap tak akan memetik keuntungan jika Martinez harus mengganti atau merombak skuad.
Mereka adalah kumpulan pemain hebat yang bahkan menjadi salah satu faktor mengapa Piala Dunia 2026 akan menghasilkan juara baru selain Brasil, Uruguay, Argentina, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris, dan Prancis.
Dengan skuad sedalam dan sevariatif itu, Portugal memiliki kemungkinan lebih besar untuk memenangkan banyak pertandingan, termasuk melawan Republik Demokratik Kongo.
Kongo
Setelah gagal mendapatkan tiket lolos otomatis dari zona Afrika karena klasemen grup kualifikasi dipuncaki Senegal, Kongo harus melewati playoff antarbenua di Meksiko pada Maret 2026.
Pada babak itu mereka mengalahkan Jamaika, untuk mengakhiri penantian 52 tahun masuk kembali putaran final Piala Dunia.
Tetapi 52 tahun lalu itu Republik Demokratik Kongo masih bernama Zaire.
Nama Zaire yang erat dengan penindasan dan tiranisme kemudian dihapus pada 1997 untuk melenyapkan jejak warisan diktator Mobutu Sese Seko.
Mobutu adalah aktor yang turut mendongkel pemimpin demokratis pertama Kongo, Patrice Lumumba, yang dibunuh tanpa diketahui jejaknya.
Lumumba yang pencetus ide Pan Afrika adalah juga sahabat ideologis Bung Karno di Indonesia yang sama-sama aktif menggelorakan semangat antikolonialisme pada 1950-an.
Mengandalkan diaspora
Semangat Lumumba menginspirasi juga timnas Kongo dan suporternya.
Salah satu pendukungnya yang bernama Michel Kuka bahkan menirukan gestur terkenal Lumumba yang diabadikan dalam sebuah patung di ibu kota Kinshasa. Kuka pun menjadi lebih sering disebut "Lumumba Vea".
Sejak 2013, Kuka selalu mendukung timnas Kongo dalam gestur berdiri tak bergerak sambil mengangkat sebelah tangannya, bak patung Patrice Lumumba di Kinshasa.
Lumumba adalah simbol perlawanan, pendobrak, persatuan, dan patriotisme, yang menginspirasi banyak aspek di Kongo, termasuk gaya bermain tim sepak bola Kongo.
Filosofi bermain tim asuhan manajer Sebastien Desabre ini sendiri menggabungkan fisik yang kuat, kecepatan, bakat individu dan disiplin.
Filosofi itu mengkristal dalam struktur bermain yang berpijak pada empat gelandang yang menyangga satu penyerang, dan seorang gelandang bertahan yang berorientasi melapis pertahanan dalam pola 4-1-4-1, yang juga bisa dalam sistem 4-4-1-1.
Filosofi itu juga memuat persatuan dan semangat inklusif yang kuat, yang dibuktikan dengan skuad yang menggabungkan produk lokal dan diaspora.
Sekitar 17 dari 26 pemain Kongo adalah warga diaspora. Dan semua dari 26 pemain itu bermain di luar negeri, termasuk Aaron Wan-Bissaka, Axel Tuanzebe, Arthur Masuaku, Noah Sadiki, dan Yoane Wissa, yang semuanya berkarier di Liga Inggris.
Semua pemain itu akan dipasang oleh pelatih Sebastien Desabre dalam posisi ofensif sebagaimana spirit timnas Kongo yang menginginkan dominasi lapangan, dan mendobrak, bagai semangat yang digelorakan Lumumba.
Dalam sistem ini Desabre akan memainkan dua striker yang ditempatkan vertikal, di mana Cedric Bakambu berada di depan Yoane Wissa.
Gelandang bertahan Samuel Moutioussamy akan menjadi poros permainan, sedangkan duet eks Manchester United Axel Tuanzebe dan Aaaron Wan Bissaka, mengisi kedua sayap pertahanan, untuk mengapit kapten Chancel Mbemba dan Arthur Masuaku di jantung pertahanan.
Dengan komposisi seperti itu, Kongo akan berusaha menahan gempuran gelandang-gelandang Portugal yang dikenal kreatif.
Tapi kecenderungan Kongo untuk bermain terbuka ketimbang menumpuk pemain di garis pertahanan sendiri, bisa menjadi bumerang karena malah membuat lini serang Portugal menjadi lebih mudah bekerja.
Selain faktor itu, Portugal yang berperingkat 5 dunia dan memiliki skuad lebih kuat nan kreatif, lebih mungkin memenangkan laga ini ketimbang Kongo yang berperingkat 45.
Sumber: ANTARA