Istanbul (KABARIN) - Menteri Kehakiman Lebanon Adel Nassar menolak usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyarankan agar Israel menyerahkan penanganan kelompok Hizbullah kepada Suriah.
Dalam wawancara dengan CNN pada Rabu, Nassar menegaskan bahwa urusan pelucutan kekuatan Hizbullah merupakan tanggung jawab negara Lebanon dan tidak boleh dilakukan oleh pihak asing.
“Ini bukan soal pasukan asing yang melakukan pekerjaan tersebut. Lebanon telah menderita selama bertahun-tahun akibat campur tangan pihak lain. Jika Hizbullah saat ini menjadi proksi Iran, itu karena adanya campur tangan Iran dalam urusan dalam negeri Lebanon,” ujarnya.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump menyampaikan pandangannya terkait situasi di kawasan. Menurut Trump, Suriah dinilai lebih mampu menangani Hizbullah dibandingkan Israel.
“Saya menyarankan kepada Israel agar membiarkan Suriah menangani Hizbullah karena, terus terang, saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik,” kata Trump kepada wartawan di Prancis.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak Hizbullah terlibat dalam pertempuran dengan Israel pada awal Maret. Bentrokan tersebut terjadi setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Meski Washington dan Teheran telah mencapai kesepahaman untuk mengakhiri konflik militer mereka, situasi di perbatasan Lebanon-Israel masih belum sepenuhnya mereda.
Konflik terbaru bermula ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Sejak saat itu, ketegangan meluas ke sejumlah wilayah di Timur Tengah, termasuk Lebanon.
Pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di berbagai front kawasan, terutama di Lebanon, menjadi salah satu tujuan utama nota kesepahaman yang dijadwalkan ditandatangani antara Teheran dan Washington pada Jumat mendatang.
Di sisi lain, Israel masih menguasai sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian wilayah tersebut telah diduduki selama beberapa dekade, sementara area lainnya berada di bawah kontrol Israel sejak konflik sebelumnya pada periode 2023–2024.
Dalam operasi militer yang masih berlangsung, pasukan Israel juga dilaporkan telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, menambah kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Sumber: Anadolu_OANA