laga ini adalah adu otak antara Pochettino dan Popovic, yang selain dikenal pragmatis dan menekankan disiplin, juga sangat memperhatikan detail seperti halnya Pochettino
Jakarta (KABARIN) - Selain menjadi pertemuan antara dua tim yang sudah menggenggam tiga poin, laga Grup D di Stadion Lumen Field, Seattle di Washington pada Sabtu (20/6) pukul 02.00 WIB ini adalah pertarungan antara tim yang menang karena bermain ofensif melawan tim yang menang karena efektif dalam serangan balik.
Amerika Serikat akan masuk lapangan dengan keyakinan tinggi setelah menang besar 4-1 atas Paraguay, sedangkan Australia akan masuk arena dengan keyakinan tak kalah tinggi setelah mengalahkan Turki 2-0, dalam laga di mana mereka terus-terusan ditekan.
Walau berstatus tuan rumah, Amerika Serikat yang berperingkat tertinggi di Grup D pada rangking 15, tak akan bersikap negatif seperti Turki.
Sebelum menghadapi Socceroos pada laga pertama Grup D, kapten timnas Turki Hakan Calhanoglu meremehkan Australia dengan sesumbar Turki akan mendominasi laga itu.
Ya, Turki memang mendominasi pertandingan tersebut. Namun, tim asuhan Tony Popovic yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah menjadi runner up di bawah Jepang dalam babak ketiga kualifikasi zona Asia, membuktikan lebih baik dari Turki.
Australia juga tak membohongi peringkat tinggi yang mereka punya. Walau sering dipandang sebelah mata, Australia kini memiliki peringkat FIFA lebih baik dari Turki dan Paraguay.
Mereka hanya kalah dari tuan rumah. Socceroos berperingkat 23 atau tiga angka di atas Turki, sedangkan Amerika Serikat berperingkat 15.
Walau begitu, USMNT atau The Yanks tak akan meremehkan Australia, kendati statistik lebih berpihak kepada mereka, termasuk head to head.
USMNT menang dua kali, sedangkan Australia menang sekali dari total empat pertemuan terdahulu yang semuanya merupakan pertandingan persahabatan.
Bahkan Socceroos terbilang baru mereka kalahkan 1-2 dalam laga persahabatan 14 Oktober 2025 ketika sebagian besar pemain kedua tim juga bermain dalam putaran final Piala Dunia 2026 ini.
AS juga tak pernah kalah dari tim-tim Asia, Afrika dan benua Amerika lain, dalam 10 laga terakhirnya sejak menyerah 0-2 kepada Korea Selatan dalam laga persahabatan pada 7 September 2025.
Akan lebih sulit
Setelah mengawali putaran final Piala Dunia 2026 dengan sangat mengesankan, AS ingin tetap berada di jalur kemenangan.
Tetapi hal itu tak akan mudah, bukan saja karena AS tak pernah menang berturut-turut dalam fase grup Piala Dunia sejak terakhir melakukannya pada edisi 1930, juga karena faktor lawan yang tak bisa mereka remehkan.
Saat mengalahkan Paraguay dalam laga pertama Grup D, Tim Ream cs langsung mengurung lawan sampai unggul 3-0 dalam 45 menit pertama.
Trio Tyler Adams, Weston McKennie dan Malik Tillman benar-benar mematikan mesin permainan Paraguay, sehingga leluasa menciptakan ruang lapang kepada Christian Pulisic dan Folarin Balogun untuk meneror pertahanan Paraguay.
Segi lima atau pentagonal lapangan tengah ini, kata pelatih Paraguay Gustavo Alfaro, adalah rahasia kemenangan tim asuhan Mauricio Pochettino dalam laga pertama Grup D itu.
Pentagonal itu menyesaki sektor tengah, untuk kemudian menguasai lalu lintas bola, merancang counterpressing yang cepat, dan kemudian menjadi perancang untuk peluang-peluang gol USMNT.
Kombinasi kelima pemain itu dalam formasi 4-2-3-1 membuat daerah inti pertahanan Paraguay tak henti diinvasi AS, sampai 84 kali yang 86 persen di antaranya melalui kedua sayap serangan AS. Paraguay sendiri hanya 22 kali beroperasi di sepertiga terakhir permainannya.
Apakah pentagonal AS itu akan kembali berfungsi optimal kala melawan Australia yang sepertiga pertamanya diserang bertubi-tubi oleh Turki sampai 91 kali, yang 97 persen di antaranya dari kedua sayap?
Pochettino memiliki alasan untuk risau, terutama karena tekanan yang dialami Australia dari Turki yang lebih besar ketimbang yang diterima Paraguay dari AS, malah masih membuat Australia menciptakan peluang gol lebih banyak ketimbang Paraguay.
Ketika ditekan habis-habisan oleh Turki, Australia menciptakan 4 peluang tepat yang dua di antaranya berbuah gol. Paraguay hanya membuat 1 peluang emas yang kemudian berujung gol.
Situasi ini bisa menyulitkan tugas Christian Pulisic dan rekan-rekannya dalam barisan serang AS. Pulisic diragukan tampil melawan Australia karena mengalami cedera saat melawan Paraguay.
Tapi seandainya Pulisic absen, AS masih memiliki Gio Reyna, Tim Weah dan Alejandro Zendejas, yang membuat serangan mereka tetap menakutkan bagi lawan.
Cuma, AS kini mungkin akan lebih sulit dalam membongkar pertahanan lawan. Jika pun berhasil menembus benteng pertahanan Socceroos, mereka masih harus menghadapi Patrick Beach yang tangguh menjaga gawang Australia, sampai dinobatkan sebagai man of the match laga Australia melawan Turki.
Beach membuat delapan kali penyelamatan penting saat Australia mempermalukan Turki.
Dia menjadi aspek terpenting Socceroos dalam membuat Turki frustrasi dan terlalu fokus menyerang sehingga lengah dalam membaca kekuatan Australia lainnya, yang akhirnya menenggelamkan mereka.
Arena adu otak
Kekuatan lainnya Australia adalah serangan balik yang cepat yang merupakan produk dari keterampilan pemain-pemainnya dalam mengubah keadaan tertekan menjadi menyerang dalam waktu yang singkat.
Transisi defensif ke menyerang yang berintikan manuver gelandang Connor Metcalfe dan Nestory Irankunda inilah yang merontokkan Turki, dan berpotensi merusak rencana bermain AS nanti.
Tidak itu saja, Australia yang jeli dan sabar membaca arah permainan lawan juga tim yang sangat berbahaya dalam set piece. Uniknya dalam situasi ini, bek tengah mereka yang ahli menangkal tusukan lawan, Harry Souttar, adalah pemanfaat terbaik situasi bola mati Australia.
Kemungkinan bermain lagi dalam pola 5-4-1, Australia akan menumpuk pemain di area sendiri seperti dilakukan Paraguay, tapi dengan organisasi pertahanan yang lebih baik.
Mereka akan sabar menanti AS lengah, sampai mendapatkan momen tepat untuk mengubah keadaan tertekan menjadi serangan yang efektif lewat transisi cepat, seperti mereka tunjukkan saat menaklukkan Turki.
Begitu AS keasyikan menekan sampai lupa membuat bolong dalam sistem pertahanan mereka, itulah saatnya pemain-pemain Tony Popovic yang piawai mengubah keadaan tertekan menjadi menyerang dalam sekejap, akan menghukum USMNT.
Jika AS kehilangan bola dengan cara yang buruk, entah karena umpan yang pelan, overlapping para pemain saat menyerang, atau bahkan karena backpass yang tidak cermat, Australia akan seketika berubah dari tim yang tertekan menjadi tim yang sangat berbahaya.
Tapi Pochettino pasti sudah mencermati hal ini. Dia bukan pelatih biasa-biasa, yang akan jeli memperhatikan detail dan kecenderungan pertandingan.
Mantan pelatih Tottenham, Paris Saint Germain dan Chelsea ini akan menjadi pemain keduabelas USMNT yang "bermain" di pinggir lapangan dengan otaknya untuk mengubah kecenderungan tidak baik pada timnya tak berakhir menjadi situasi fatal, atau bahkan balik menguntungkan timnya.
Pada dasarnya pula, laga ini adalah adu otak antara Pochettino dan Popovic, yang selain dikenal pragmatis dan menekankan disiplin, juga sangat memperhatikan detail seperti halnya Pochettino.
AS mungkin memenangkan laga ini tapi tidak dengan skor mencolok seperti saat mengalahkan Paraguay. Tapi jika analisis pertandingan sebelumnya konsisten dengan bagaimana laga ini berlangsung, maka hasil seri akan adil bagi kedua tim.
Baca juga: AS dan Australia Berebut Tiket Fase Gugur, Siapa Lebih Tajam?
Sumber: ANTARA