Kisah Perjuangan Kiper Tanjung Verde Vozinha Menuju Piala Dunia

waktu baca 2 menit

Miami (KABARIN) - Vozinha tak mampu menahan air mata setelah membawa Timnas Tanjung Verde meraih hasil bersejarah saat menahan imbang Timnas Spanyol dengan skor 0-0 pada ajang FIFA World Cup 2026.

Kiper berusia 40 tahun itu tampil luar biasa dengan sederet penyelamatan penting yang membuat Spanyol frustrasi sepanjang laga. Hasil ini sekaligus menjadi poin pertama Tanjung Verde dalam sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.

Namun di balik selebrasi tim, emosi Vozinha pecah saat berbicara kepada wartawan. Ia mengungkap alasan di balik air mata yang ia tumpahkan usai peluit akhir berbunyi.

“Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya, dan sayangnya, mereka tidak ada di sini. Mereka meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya. Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa hadir di sini karena masalah visa,” ujar Vozinha.

Kisah haru itu semakin menyentuh karena perjalanan hidup Vozinha tidak mudah. Ia baru memulai karier profesional di usia 25 tahun dan sempat hampir menyerah dari dunia sepak bola sebelum akhirnya bertahan hingga mencapai panggung terbesar dunia.

Di negara dengan populasi kecil, pencapaian Tanjung Verde menembus Piala Dunia saja sudah menjadi sejarah besar. Hasil imbang melawan Spanyol kemudian menjadi momen yang akan selalu dikenang.

Sementara itu, sang ibu, Ana Candida Evora, hanya bisa menyaksikan dari rumah di Pulau Sao Vicente karena terkendala visa dan biaya. Ia pun mengaku bangga atas penampilan putranya dari kejauhan.

“Saya mengatakan tidak ada bola yang akan berhasil menjebol gawangnya, dan itu benar-benar terjadi. Dia adalah kiper yang hebat. Saya sangat bangga menjadi ibu Vozinha, dan saya berharap dia terus berhasil menahan bola yang mengarah ke gawangnya,” ungkapnya.

Kisah tersebut kemudian berakhir bahagia setelah sang ibu akhirnya mendapatkan visa untuk menyusul ke Amerika Serikat dengan bantuan pihak ketiga, sehingga bisa mendukung langsung perjuangan putranya.

Lebih dari sekadar hasil pertandingan, cerita Vozinha menjadi simbol ketekunan, keluarga, dan perjalanan panjang seorang pemain yang tidak pernah berhenti mengejar mimpinya hingga akhirnya berdiri di panggung terbesar dunia.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka