Penantian Panjang Mesir Berakhir

waktu baca 5 menit

Sungguh luar biasa. Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ini adalah pencapaian hebat dari semua pemain, staf, dan semoga kami bisa terus begini di grup ini, serta menuliskan sejarah baru dengan lolos (ke babak gugur)

Jakarta (KABARIN) - Mereka bersujud. Mereka bersyukur. Mereka bersuka cita.

Kurang lebih demikianlah gambaran singkat pemandangan yang tersaji di tengah lapangan Stadion BC Place, Vancouver, Kanada, Minggu (21/6) waktu setempat, selepas pertandingan lanjutan Grup G Piala Dunia 2026 antara Selandai Baru menghadapi Mesir.

Sementara riuh rendah para pendukung Mesir menggema dari tribun stadion, para pemain Mesir berkumpul di garis lingkaran tengah lapangan. Sang kapten Mohamed Salah memimpin rekan-rekannya, juga jajaran staf pelatih, duduk sebelum bersujud memanjatkan syukur.

Mereka patut bersyukur sekaligus wajib berbangga sebab Salah dkk adalah tim Mesir pertama yang merasakan kemenangan di sebuah pertandingan putaran final Piala Dunia.

Setelah di pertandingan pertama harus puas berbagi poin usai main imbang 1-1 kontra Belgia, Mesir sukses mengakhiri penantian panjang kemenangan pertama di putaran final Piala Dunia dengan mengatasi Selandia Baru 3-1.

Pasukan Firaun sempat kesulitan membalas gol cepat Finn Surman hingga babak pertama berakhir. Namun, babak kedua mampu mereka kendalikan sepenuhnya.

Mostafa Zico terlebih dulu menyamakan kedudukan pada menit ke-58, lantas Salah melepaskan tembakan yang menuntaskan upaya Mesir membalikkan keadaan sembilan menit kemudian.

Delapan menit jelang bubaran waktu normal, Salah mengirimkan umpan silang apik yang mampu diselesaikan Trezeguet demi mengunci kemenangan 3-1 bagi Mesir atas Selandia Baru.

Maka, selepas jabat tangan singkat dengan para pemain Selandia Baru usai peluit tanda laga bubaran ditiup wasit Omar Mohamed Al Ali, berkumpullah Salah dkk di tengah lapangan membentuk lingkaran.

Mereka bersujud. Mereka bersyukur. Mereka bersuka cita.

Penantian panjang

Mesir, seharusnya ambil bagian dalam edisi perdana Piala Dunia 1930 di Uruguay. FIFA mengundang semua negara anggota untuk terlibat dalam edisi inagurasi ajang yang mereka gagas turnamen tertinggi "pengganti" nomor pertandingan sepak bola di Olimpiade tersebut.

Sebagai federasi sepak bola tertua di Benua Afrika, Mesir tentu membalas undangan FIFA dan menyatakan kesediaan untuk ikut serta di Piala Dunia 1930.

Mengingat kala itu perjalanan antarbenua masih menggunakan moda transportasi laut, Mesir memiliki daftar perjalanan yang cukup rumit yakni bertolak dari Afrika ke Prancis untuk berpindah ke kapal uap The Florida.

Sayangnya, rencana Mesir diganggu oleh badai yang melanda perairan Mediterania hingga perjalanan mereka menuju Marseille, Prancis, berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Walhasil, ketika Mesir tiba di Marseille, The Florida sudah mengangkat sauh melanjutkan perjalanan ke Montevideo, Uruguay, mengangkut Timnas Yugoslavia.

Empat tahun berselang, Mesir resmi jadi wakil Afrika pertama yang tampil di putaran final Piala Dunia setelah lolos dari fase kualifikasi mengalahkan Palestina dan Turki.

Sayangnya, Mesir kemudian harus pulang lebih awal dari Piala Dunia 1934 Italia setelah kalah 2-4 melawan Hungaria di babak pertama.

Mesir sempat melewatkan lebih dari separuh abad --dan memenangi tiga trofi Piala Afrika pada 1957, 1959, dan 1986-- sebelum bisa kembali tampil di putaran final Piala Dunia di Italia pada 1990.

Piala Dunia 1990 bermula lebih baik bagi Mesir yang menahan Belanda 1-1 dan main imbang 0-0 kontra Irlandia, tapi kekalahan 0-1 melawan Inggris tepat 36 tahun yang lalu membuat mereka lagi-lagi jadi bagian rombongan yang harus angkat koper lebih awal dari turnamen.

Ketika Piala Dunia 2018 tiba, Mesir telah menahbiskan diri sebagai tim tersukses di Afrika dengan raihan tujuh trofi Piala Afrika. Namun, setengah bulan sebelumnya mereka harus dilanda kekhawatiran karena sang bintang Mohamed Salah cedera lengan setelah dijatuhkan oleh bek Real Madrid, Sergio Ramos, saat membela Liverpool di final Liga Champions.

Salah tetap masuk dalam skuad akhir tim besutan Hector Cuper, tapi harus melewatkan pertandingan pertama dari bangku cadangan menyaksikan Mesir kalah 0-1 melawan Uruguay. Salah akhirnya turun di pertandingan kedua menghadapi Rusia, tapi tuan rumah keluar sebagai pemenang 3-1 atas Mesir.

Kendati demikian, ketika Salah sukses mengeksekusi tendangan penalti pada menit ke-73 pertandingan tersebut ia mencetak gol pertama Mesir di putaran final Piala Dunia setelah 28 tahun lamanya.

Salah membawa Mesir memimpin atas Arab Saudi di awal pertandingan ketiga, tetapi dua gol menit tambahan waktu di tiap babak mengubur mimpi Pasukan Firaun merasakan kemenangan perdana di putaran final Piala Dunia.

Mesir kembali absen dari putaran final edisi 2022, sebelum menjadi tim ke-16 setelah deretan tuan rumah Piala Dunia 2026 yang lolos ke putaran final usai menjuarai Grup A fase kualifikasi zona Afrika lewat kemenangan 3-0 atas Djibouti pada 8 Oktober 2025.

Salah memimpin Mesir sebagai kapten di Piala Dunia 2026 dan nyaris memperoleh hadiah ulang tahun ke-34 yang manis saat mereka memimpin lebih dulu atas Belgia berkat gol apik Emam Ashour di Stadion Lumen Field, Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 15 Juni 2026.

Sayangnya, Salah dan Mesir harus puas hanya meraih satu poin lantaran gol bunuh diri Mohamed Hany yang berebut mengantisipasi bola umpan tarik kiriman Thomas Meunier.

Enam hari berselang, penantian panjang Mesir berakhir sudah. Di hadapan 52.497 penonton yang memadati tribun Stadion BC Place, Mesir mampu bangkit dari ketertinggalan untuk mengatasi Selandia Baru 3-1 sekaligus menorehkan kemenangan perdana mereka di putaran final Piala Dunia. Kemenangan yang harus mereka tunggu nyaris satu abad lamanya.

"Sungguh luar biasa. Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ini adalah pencapaian hebat dari semua pemain, staf, dan semoga kami bisa terus begini di grup ini, serta menuliskan sejarah baru dengan lolos (ke babak gugur)," kata Salah selepas pertandingan seperti dilansir laman resmi FIFA.

"Dan dalam beberapa tahun ke depan, (semoga) itu akan dikenang sebagai salah satu pencapain terbaik dalam sejarah (sepak bola Mesir). Kami harus menikmati hari ini, besok, lalu fokus untuk pertandingan berikutnya," ujar dia menambahkan.

Sementara pemandangan sujud syukur dari seluruh tim Mesir menghiasi layar kaca para penikmat sepak bola di seluruh dunia, tersempil adegan emosional lain yang diperlihatkan sang pelatih Hossam Hassan.

Pelatih yang semasa bermain turut memenangkan Piala Afrika 1986, 1998, dan 2006 bersama Mesir itu tampak berkaca-kaca ketika melayani wawancara pascalaga.

"Saya sangat berbahagia atas kemenangan ini, dan berterima kasih kepada segenap masyarakat Mesir atas dukungan deras mereka," kata Hassan.

Kebahagiaan Hassan, Salah, dan timnas Mesir mungkin sederhana, kemenangan-kemenangan kecil yang mungkin bukan capaian luar biasa setara menjadi juara Piala Dunia.

Namun, Piala Dunia selalu menjadi tempat kemenangan-kemenangan kecil itu dirayakan bersama-sama. Pencapaian yang disyukuri bersama-sama sebagaimana segenap anggota timnas Mesir melingkar bersujud di tengah lapangan selepas pertandingan.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka