Brasil Diunggulkan, Skotlandia Cari Kejutan di Laga Penentuan

waktu baca 5 menit

Tartan Army harus mengabaikan catatan tidak pernah bisa mengalahkan Selecao dalam 10 pertemuan sebelumnya dengan Brasil.

Jakarta (KABARIN) - Dari sudut apa pun, profil Skotlandia masih di bawah Brasil yang meraksasa dalam semua hal, mulai kedalaman dan kualitas skuad, teknik bermain, sampai pencapaian dari perjalanan panjang dalam putaran final Piala Dunia.

Brasil adalah tim paling sukses dan terlengkap sepanjang sejarah Piala Dunia karena lima kali juara. Mereka juga pernah jadi runner up, urutan ketiga, serta peringkat keempat.

Brasil adalah satu-satunya tim yang tak pernah absen mengikuti putaran final Piala Dunia, sejak turnamen ini pertama kali digelar di Uruguay pada 1930.

Namun, pada Piala Dunia kali ini, Brasil belum menunjukkan diri sebagai tim yang nyaris sempurna seperti saat mereka menjuarai Piala Dunia 2002, gelar juara dunia terakhir yang diraih Selecao.

Selama fase grup Piala Dunia 2026 pun mereka tak terlihat sesuperior Argentina atau Prancis.

Indikatornya terlihat pada statistik dua pertandingan terdahulu yang tak dikuasai mutlak oleh mereka, walau membantai Haiti 3-0 dalam pertandingan kedua Grup C.

Saat mengalahkan Haiti yang berperingkat 87, Brasil yang berperingkat 5, diimbangi dalam hal penciptaan peluang.

Jika Brasil membuat 7 peluang yang 4 di antaranya tepat sasaran, maka Haiti membuat 7 peluang yang tiga di antaranya "on target".

Haiti juga unggul dalam frekuensi melakukan penetrasi ke sepertiga terakhir lapangan; 50 berbanding 44.

Untuk negara dengan peringkat dan rekam jejak yang jauh di bawah Brasil, pencapaian Haiti itu sangatlah mengejutkan.

Di bagian ini Skotlandia mesti mengimitasi penampilan Haiti, tapi jangan kekalahannya, agar upaya Brasil dalam meraih tiga poin tak tercapai.

Misi ini memang berat sekali, tapi inilah yang harus dilakukan tim asuhan Steve Clarke agar bisa mencapai fase knockout ketika Grup C hampir pasti mengutus Brasil dan Maroko ke babak itu.

Tiga poin yang sudah didapat Skotlandia setelah mengalahkan Haiti 1-0 dalam pertandingan kedua, harus ditambah minimal satu poin lagi agar mereka terlepas dari kutukan selalu gagal masuk fase knockout Piala Dunia.

Di atas kertas, Brasil sendiri masih terlalu kuat untuk Skotlandia. Raksasa Amerika Selatan ini hampir selalu bisa melewati fase grup Piala Dunia, kecuali edisi 1930 dan 1966.

Jangankan mengalahkan Brasil, menghadapi Maroko yang berada satu peringkat di bawah Brasil pun Skotlandia sangat kelabakan. Mereka tak cuma kalah 0-1, tapi juga gagal membuat satu pun peluang on target.

Harus lebih agresif

Hikmah dari kekalahan melawan Maroko itu adalah pelatih Steve Clarke menjadi lebih berhati-hati dalam bereksperimen. Clarke tidak memasang Ben Gannon Doak sebagai starter karena ingin menerapkan formasi tiga bek tengah formasi 3-5-2 guna menangkal agresi Maroko.

Padahal Ben Doak yang beroperasi di sayap kanan pertahanan, bermain cemerlang saat menggebuk Haiti 1-0. Gol John McGinn dari rebound tembakan Che Adams, adalah berawal dari tusukan Ben Doak di sayap kiri pertahanan Haiti.

Namun yang paling mendesak dilakukan oleh Skotlandia adalah bermain lebih agresif, baik saat transisi maupun ketika pemain-pemain tidak sedang menggiring bola.

Menghadapi pemain-pemain berketerampilan tinggi yang piawai mengalirkan bola dan mengatur tempo permainan seperti pemain-pemain Brasil, terus menekan adalah kunci untuk tidak kalah, dan juga untuk menang.

Brasil sendiri merupakan tim yang cepat belajar dari kesalahannya, apalagi memiliki pelatih analitis dan pemikir, seperti Carlo Ancelotti.

Segera setelah ditahan seri 1-1 oleh Maroko, Ancelotti mengubah pendekatan bermain timnya, salah satunya dengan menurunkan lebih awal Matheus Cunha daripada terus menjadikan Igor Thiago sebagai starter.

Cunha membayar tuntas kepercayaan itu dengan dua gol, yang dilengkapi satu gol lain dari Vinicius Junior.

Ini bukan sekadar gol, tetapi juga gambaran mengenai mautnya tim serangan Brasil, yang memiliki banyak opsi dengan kualitas yang merata.

Lima belas gol yang diciptakan pemain-pemain Brasil dalam lima laga terakhirnya, melukiskan sangat tajamnya sistem serangan Brasil.

Namun, tidak seperti Argentina, tim pertahanan Canarinho atau lebih sering disebut Selecao, tak sedahsyat unit serangan mereka.

Kecuali saat mengalahkan Haiti, kuartet pertahanan pimpinan Gabriel Magalhaes dan Marquinhos, selalu kebobolan dalam sembilan laga terakhir, termasuk tiga kali saat dikalahkan Jepang dan dua kali saat ditaklukkan Prancis dalam laga persahabatan menjelang kickoff Piala Dunia 2026.

Duet penyerang Skotlandia, Che Adams-Lawrence Shankland, dibantu trio gelandang John McGinn, Lewis Ferguson, dan Scott McTominay, bisa mencermati dan fokus kepada bolong yang sebenarnya tak terlalu besar di lini pertahanan Brasil itu.

Sebaliknya, kuartet pertahanan Skotlandia pimpinan Andy Robertson, harus awas bahwa para predator serangan Brasil sudah mulai panas seperti saat menggasak Haiti 3-0. Sembilan dari 26 pemain yang dibawa Ancellotti ke Amerika Utara adalah pemain-pemain depan yang haus gol.

Skotlandia yang diasuh pelatih yang pragmatis, juga tidak boleh menoleh ke masa lalu, karena jika itu dilakukan bakal menambah tekanan mental kepada mereka.

Tartan Army harus mengabaikan catatan tidak pernah bisa mengalahkan Selecao dalam 10 pertemuan sebelumnya dengan Brasil.

Skotlandia malah kalah 10 kali, termasuk 1-4 dalam Piala Dunia 1982, 0-1 pada Piala Dunia 1990 dan 1-2 sewaktu Piala Dunia 1998.

Skotlandia mesti fokus kepada satu poin yang ingin mereka curi dari Brasil. Namun, poin sesedikit ini pun pasti sangat sulit didapat dari tim yang tengah berusaha keras untuk tetap berada di jalur kemenangan, sekaligus mengirimkan pesan tegas kepada para pesaing bahwa Selecao siap merebut kembali gelar juara dunia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka