Duel Gajah Lawan Semut dalam Laga Pantai Gading vs Curacao

waktu baca 5 menit

Pantai Gading membutuhkan kesempurnaan untuk memenangkan laga ini, sedangkan Curacao memerlukan kekuatan hati dan juga keberuntungan guna menjadi tim berperingkat terendah pertama yang lolos ke fase knockout Piala Dunia.

Jakarta (KABARIN) - Ekuador akan terlalu sulit mengalahkan Jerman dalam pertandingan terakhir Grup E, padahal hanya dengan skenario kemenangan itulah yang bisa membawa mereka lolos ke fase gugur.

Jerman sendiri kemungkinan akan tetap bermain ambisius walau mungkin merotasi skuadnya. Mereka mengalahkan Pantai Gading, yang ironisnya menjadi tim yang mengalahkan Ekuador. Hasil sempurna masih menjadi incaran Jerman.

Oleh karena itu, perhatian lebih baik diarahkan kepada pertandingan lain dalam grup ini, yakni antara Pantai Gading dan Curacao.

Meskipun laga yang akan berlangsung di Stadion Philadelphia, Amerika Serikat, pada Jumat (26/6) pukul 03.00 WIB ini akan cenderung tak seimbang, tapi memuat konten lebih menarik untuk disimak.

Laga ini mempertemukan tim debutan dengan peringkat terendah melawan salah satu raksasa Afrika yang tampil meyakinkan dalam dua pertandingan sebelumnya. Pantai Gading juga tengah memburu tiket ke fase gugur, setelah dalam tiga penampilan terakhir mereka di Piala Dunia selalu terhenti di babak grup.

Pantai Gading membutuhkan kesempurnaan untuk memenangkan laga ini, sedangkan Curacao memerlukan kekuatan hati dan juga keberuntungan guna menjadi tim berperingkat terendah pertama yang lolos ke fase knockout Piala Dunia.

Kedua tim akan menjalani pertandingan ketiga fase grupnya dengan perbedaan jauh dalam cara mereka memetik hasil pertandingan dalam dua laga sebelumnya.

Jika Pantai Gading langsung meraih tiga poin dari Ekuador tapi kemudian terkapar karena menjadi pihak yang kalah saat berjumpa dengan Jerman, maka Curacao terhuyung-huyung setelah kalah 1-7 melawan Jerman sebelum memperbaiki diri dengan menahan seri Ekuador.

Pelatih Pantai Gading sepertinya lebih tertarik mempelajari cara Curacao menahan seri Ekuador 0-0, ketimbang bagaimana Curacao diremukkan oleh Jerman pada pertandingan pertama grup ini.

Bahkan untuk sekadar meraih hasil imbang, Les Elephants tetap harus berjuang keras mencari cara menembus pertahanan rapat Curacao, yang dibangun dengan kerja kolektif para pemainnya, bagai koloni semut yang tak kenal lelah, bekerja maraton untuk menaklukkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Kinerja pertahanan Curacao sendiri mendadak menjadi perhatian banyak orang, setelah mereka menahan seri Ekuador 0-0.

Hasil imbang 0-0 yang sangat bersejarah untuk Curacao itu adalah contoh sempurna untuk pertahanan yang hampir sempurna.

Menghadapi tekanan begitu besar, disiplin kolektif tim dan 15 penyelamatan krusial oleh kiper veteran Eloy Room menjadi kunci negeri liliput di Kepulauan Karibia itu mendapatkan poin pertamanya dalam Piala Dunia yang juga baru mereka ikuti.

Efek Advocaat

Pantai Gading tak akan berjudi untuk mengakhiri laga ini tanpa gol seperti dialami Ekuador, karena Curacao juga memiliki kemampuan mencetak gol yang baik.

Buktinya, mereka berhasil memasukkan satu gol ke gawang Jerman, setelah mengonversi salah satu dari delapan peluang.

Saat menghadapi Ekuador, Curacao bahkan membuat 10 peluang yang tiga di antaranya tepat sasaran.

Itu semua menjadi faktor yang harus dicermati Pantai Gading, bahwa walau profilnya kecil, Curacao tetap memiliki kemampuan menjebol gawang tim besar.

Akan sangat membahayakan Pantai Gading jika tim asuhan Dick Advocaat itu mencetak gol lebih dulu, dan setelah itu mundur untuk bermain seperti mereka menahan serbuan Ekuador.

Saat melawan Curacao, Ekuador melepaskan percobaan gol yang lebih banyak ketimbang yang dilakukan Jerman. Mereka juga membuat tusukan ke sepertiga terakhir yang juga lebih sering ketimbang Die Mannschaft.

Jika Jerman membuat 26 peluang yang 12 di antaranya on target, maka statistik Ekuador lebih tinggi lagi dengan 27 peluang yang 15 di antaranya tepat sasaran.

Ekuador juga 88 kali melakukan penetrasi ke sepertiga terakhir lapangan, sedikit di atas Jerman yang 81 kali menyerang sepertiga pertama Curacao.

Tetapi hasilnya bagai bumi dan langit. Jerman sukses mengonversi statistik itu dengan tujuh gol, sedangkan Ekuador tak mampu menyarangkan satu pun gol ke gawang Curacao.

Itu membuktikan perubahan orientasi dan taktik bermain yang dibuat Dick Advocaat untuk Curacao telah mengubah tim ini menjadi tak lagi obyek bulan-bulanan tim besar.

Advocaat kemungkinan besar memasang mode bermain seperti itu, kala dijajal Pantai Gading nanti.

Skenario ini harus diwaspadai oleh Pantai Gading, terutama karena Franck Kessie cs sendiri acap menghadapi masalah seperti dialami Ekuador.

Ironisnya masalah itu terjadi ketika Pantai Gading melawan Ekuador.

Kembali dibanjiri serangan

Walau kalah dari sudut penguasaan bola, Pantai Gading mengungguli Ekuador dalam hal peluang dan agresi ke sepertiga terakhir.

Mereka menciptakan 15 peluang yang 4 di antaranya tepat sasaran, dan 51 kali memasuki inti pertahanan Ekuador.

Tapi Pantai Gading harus menunggu 90 menit untuk bisa mengalahkan Ekuador, dari gol yang dibuat pemain pengganti, Amad Diallo.

Padahal waktu itu Ekuador bermain terbuka, dengan pertahanan yang tidak serapat Curacao.

Artinya, Pantai Gading menghadapi tantangan yang lebih berat karena harus membongkar pertahanan lawan yang telah dipoles Dick Advocaat menjadi jauh lebih sulit ditembus.

Namun justru karena itulah pelatih Emerse Fae kemungkinan tetap menurunkan para pemain yang mengalahkan Ekuador, dengan perubahan pada formasi menjadi 4-3-3 seperti saat menghadapi Jerman. Tujuannya jelas, yakni meningkatkan daya gedor.

Fae akan mengandalkan kembali Yan Diamonde, yang mungkin dipasangkan dengan Ange-Yoan Bonny dan Amad Diallo sebagai trisula serangan Pantai Gading.

Sedangkan Advocaat akan menggelarkan pemain-pemainnya dalam formasi sama dengan saat memetik satu poin dari Ekuador, 5-3-2.

Dia akan kembali memasang Tahith Chong sebagai trio gelandang, yang berada di antara dua penyerang termasuk Juninho Bacuna, dan lima bek pimpinan Armando Obispo.

Dia akan kembali menempatkan Tahith Chong di lini tengah, mengisi trio gelandang yang menjadi penghubung antara dua penyerang (salah satunya adalah Juninho Bacuna) dan lini belakang yang berisi lima bek yang dipimpin Armando Obispo.

Curacao akan kembali menghadapi banjir serangan yang dahsyat dari Pantai Gading seperti mereka terima dari Jerman dan Ekuador. Sistem lima bek Advocaat diharapkan berfungsi baik seperti saat mengimbangi Ekuador.

Ini adalah pertemuan pertama antara kedua tim, dan bagi Pantai Gading menjadi pertandingan pertama menghadapi tim Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf).

Ini akan menjadi pertemuan pertama kedua tim, sekaligus laga pertama Pantai Gading menghadapi wakil Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf).

Jika Curacao tampil seperti saat menghadapi Ekuador, laga ini mungkin berakhir seri. hasil yang tentu sudah sangat memuaskan bagi pasukan semut dari negara mini tersebut. Namun, jika Pantai Gading bertanding sama ngotot dengan dua laga terdahulunya, tiga poin akan mutlak menjadi milik Sang Gajah Afrika.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka