Claressa Shields Kejar Gelar Baru, Siap Tantang Kaye Scott

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Juara sejati kelas berat putri (76,2 kg) Claressa Shields turun ke kelas menengah (72,6) demi mengincar sabuk World Boxing Counci (WBC) milik Kaye Scott dalam pertarungan di State Farm Arena, Atlanta, Amerika Serikat, 15 Agustus mendatang.

"Kaye Scott adalah seorang juara, dan saya menghormati apa yang telah dia capai. Tetapi menjadi juara lagi di kelas 160 pon dimulai dengan mengalahkan yang terbaik," kata Claressa Shields dalam laman resmi WBC yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Claressa bukanlah petinju yang selalu memilih jalan mudah. ​​Tepat ketika tampaknya tidak ada lagi gunung yang harus didakinya, atlet Amerika yang luar biasa ini menemukan puncak baru.

Juara kelas berat sejati yang memegang sabuk WBC, WBA, IBF, dan WBO itu akan turun kembali ke kelas menengah untuk menghadapi petinju Australia, Kaye Scott, yang kini menguasai kelas menengah putri WBC. Laga itu merupakan kesempatan emas bagi Claressa untuk lebih mengembangkan salah satu karier paling gemilang dalam sejarah tinju.

Di luar sabuk WBC yang bergengsi, pertarungan ini akan memiliki makna budaya yang mendalam. Claressa akan mencetak sejarah dengan menjadi wanita pertama yang menjadi bintang utama acara tinju profesional di State Farm Arena, sebuah tempat megah dengan kapasitas lebih dari 16.000 yang telah menjadi tuan rumah pertandingan NBA dan konser kelas dunia.

Bagi Claressa, kembali ke divisi 160 pon berarti kembali ke divisi tempat ia mengukuhkan sebagian besar legendanya. Penampilan terakhirnya di kelas itu adalah pada Juni 2023, ketika ia mengalahkan Maricela Cornejo.

Sekarang, dengan rekor tak terkalahkan 18 kemenangan dengan tiga knockout (KO), petinju yang disebut Wanita Terhebat Sepanjang Masa atau GWOAT itu akan berusaha merebut kembali dominasinya yang mutlak di divisi tersebut.

"Pada titik ini dalam karier saya, setiap pertarungan adalah tentang warisan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa keputusannya turun kelas adalah tentang mendorong batasan dari apa yang mungkin baginya, bagi tinju wanita, dan bagi generasi berikutnya. Langkah itu, kata dia, harus dimulai dengan menghadapi tantangan yang lebih sulit sehingga Scott adalah lawan yang tepat.

"Itu selalu menjadi pola pikir saya; saya tidak mengejar pertarungan mudah, saya memilih pertarungan yang bermakna," katanya.

Sementara itu, Kaye Scott akan datang sebagai juara bertahan, siap menantang segala rintangan. Petinju asal Sydney ini memiliki rekor lima kemenangan, satu kekalahan, dan satu hasil imbang.

Meskipun pengalaman profesionalnya relatif sederhana, Scott merebut gelar juara dunia setelah mengalahkan Olivia Curry Desember 2025, mengamankan kesempatan terbesar dalam hidupnya. Di usia 42 tahun, petinju Australia ini tahu bahwa kemenangan atas ratu tinju dunia akan selamanya mengubah lanskap tinju di negaranya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka