Menkes Luncurkan Skrining TBC untuk 274 Ribu Warga Binaan di Seluruh Indonesia

waktu baca 3 menit

Cilacap (KABARIN) - Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan meluncurkan program skrining tuberkulosis (TBC) menggunakan rontgen dada bagi sekitar 274.000 warga binaan pemasyarakatan di seluruh Indonesia sebagai upaya mempercepat deteksi dini sekaligus menekan penularan penyakit tersebut.

Peluncuran program dilakukan dalam kegiatan Kick Off Skrining TBC dengan Rontgen Dada dan Cek Kesehatan Gratis Tahun 2026 bagi petugas pemasyarakatan, tahanan, narapidana, dan anak binaan yang dipusatkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Ngaseman, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia masih menghadapi beban TBC yang tinggi dengan sekitar satu juta kasus baru setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 126 ribu orang meninggal dunia akibat penyakit yang sebenarnya dapat disembuhkan apabila terdeteksi dan diobati sejak dini.

Budi menjelaskan lingkungan lembaga pemasyarakatan memiliki risiko penularan TBC lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum karena warga binaan tinggal dan beraktivitas di ruang yang terbatas. Prevalensi TBC di lapas diperkirakan mencapai sekitar 3 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 0,5 persen.

Karena itu, ia berharap skrining TBC menggunakan rontgen dada dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun di seluruh 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan yang menampung sekitar 274 ribu warga binaan.

Menurutnya, deteksi dini memungkinkan penderita segera menjalani pengobatan hingga sembuh sekaligus mencegah penyebaran penyakit kepada warga binaan maupun petugas pemasyarakatan lainnya.

Budi menegaskan seluruh warga binaan berhak memperoleh layanan kesehatan yang setara dengan masyarakat umum, termasuk melalui program skrining TBC dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mulai dilaksanakan pada 2026.

Ia juga menilai langkah pencegahan merupakan strategi terbaik dalam menjaga kesehatan masyarakat, bukan hanya berfokus pada pengobatan ketika penyakit sudah muncul.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, penyakit yang paling banyak dialami warga binaan meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), stroke, dan penyakit jantung. Menurut Budi, risiko penyakit tersebut dapat ditekan melalui lingkungan yang sehat, ventilasi yang memadai, paparan sinar matahari, aktivitas fisik, serta pola makan yang baik.

Selain itu, Menkes meminta pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis dilakukan secara rutin setiap tahun di lingkungan pemasyarakatan sebagai bagian dari program prioritas pemerintah.

Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menegaskan kementeriannya berkomitmen mendukung percepatan eliminasi TBC melalui pelaksanaan skrining nasional di seluruh lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan.

Agus mengatakan program tersebut merupakan bentuk kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk mendukung target eliminasi TBC pada 2030 sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021.

Ia mengingatkan Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India sehingga diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan lebih tinggi.

Agus pun menginstruksikan seluruh jajaran pemasyarakatan untuk mendukung penuh pelaksanaan program hingga Desember 2026 agar target pemeriksaan kesehatan dan skrining TBC bagi warga binaan maupun petugas dapat tercapai secara optimal.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka