Prancis vs Swedia: Les Bleus Punya Segalanya untuk Menang

waktu baca 5 menit

Walau mungkin akan berjalan sengit, tapi terutama karena pertahanan Swedia masih di bawah Prancis, pertandingan peringkat 2 dunia melawan 36 dunia ini lebih mungkin dimenangkan oleh Prancis, sehingga Les Bleus​​​​​​​yang akan menjadi lawan Paraguay p

Jakarta (KABARIN) - Pertemuan antara juara Grup I, Prancis, yang mengumpulkan nilai sempurna 9 poin dan peringkat ketiga Grup F, Swedia, yang mengoleksi 4 poin dalam babak 32 besar di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, pada Rabu (1/7) pukul 04.00 WIB ini akan cenderung berat sebelah.

Walau memiliki penyerang-penyerang fantastis pada diri Alexander Isak dan Viktor Gyokeres, Blagult tetap masih bukan ujian sesungguhnya untuk Les Bleus yang sangat tajam di depan dan sangat kuat di dua lini lainnya.

Prancis mencetak 10 gol dari 44 peluang dengan 22 di antaranya tepat sasaran yang mereka ciptakan selama fase grup, sedangkan Swedia hanya bisa mengonversi 7 gol dari 40 peluang yang di antaranya 20 on target.

Meski tetap tergolong subur, Swedia yang diasuh pelatih asal Inggris, Graham Potter, adalah tim yang lebih rentan di sepertiga awalnya walau selalu memasang tiga bek tengah selama fase grup.

Swedia kebobolan tujuh kali, ketika Prancis hanya kemasukan dua gol. Victor Lindelof cs juga tak pernah clean sheet, sedangkan Kylian Mbappe dkk melakukannya sekali saat mengalahkan Irak 3-0.

Di samping sangat klinis di depan gawang lawan, Prancis juga sangat aktif menerobos pertahanan lawan, apalagi jika dibandingkan dengan Swedia.

Agresi Les Bleus ke sepertiga terakhirnya sampai 204 kali yang kebanyakan dari kedua sayap, khususnya sayap kiri yang frekuensinya 78 kali.

Dalam aspek sama, Swedia membuat 157 sentuhan, yang juga kebanyakan dari kedua sayap, terutama bagian kanan, 54 sentuhan.

Tim asuhan Didier Deschamps juga terdiri dari pemain-pemain yang lebih ketat dalam pressing dan lebih piawai membuka ruang untuk rekan-rekannya dalam mengalirkan bola guna mengancam lawan.

Total pressing yang dibuat Prancis dari tiga laga pertamanya adalah 768. Angka itu lebih besar dari 601 pressing yang dibuat Swedia.

Gelandang dan bek jadi penentu

Dalam soal pressing itu, Ousmane Dembele adalah pemain Prancis yang paling agresif mengganggu lawan, mengungguli Alexander Bernhardsson di Swedia pada aspek yang sama.

Dembele juga melepaskan umpan silang terbanyak dalam skuad Prancis, dengan 10 umpan, yang masih di bawah pencapaian gelandang Swedia Yasin Ayari dengan 15 umpan silang.

Tapi Dembele menebus kerja kerasnya itu dengan empat gol, jumlah yang sama dengan Kylian Mbappe. Kedua pemain ini juga bekerjasama dengan sangat baik, bahkan saling memberi assist.

Kerjasama itu sudah terjalin sejak Piala Dunia 2018.

Kini, bersama kedua pemain itu, ditambah Michael Olise dan Desire Doue yang berada di kanan kiri mereka, kuartet serangan Prancis terlalu maut untuk siapa pun.

Sudah begitu, fakta bahwa Bradley Barcola dan Desire Doue juga mencetak gol, memperlihatkan sistem serangan Prancis tak tergantung kepada satu dua pemain, seperti terjadi pada Argentina.

Pemain-pemain depan Prancis itu menjadi faktor teror sempurna yang berbahaya bagi lini belakang Swedia, yang sudah dijebol tujuh gol selama Piala Dunia 2026.

Uniknya, Les Bleus sendiri menghadapi tim yang lini depannya tak hanya tergantung kepada dua bintangnya, Isak dan Gyokeres.

Swedia masih memiliki Anthony Elanga, Yasin Ayari, dan Mattias Svanberg. Dengan masing-masing dua gol, Elanga dan Ayari bahkan mencetak gol lebih banyak ketimbang Isak dan Gyokeres.

Mereka membuat Swedia memiliki lini depan yang sama berbahaya dengan Prancis.

Akibatnya, laga ini akan ditentukan oleh bagaimana kinerja para gelandang dan bek mereka, yang sejauh ini pemain-pemain Prancis di kedua sektor ini masih lebih baik ketimbang Swedia, bahkan salah satu yang terbaik di dunia.

Bisa jadi milik Prancis

Deschamps yang sewaktu menjadi pemain bermain sebagai gelandang bertahan, tahu pasti dominasi lapangan tengah adalah kunci untuk adanya tim juara yang sangar dalam menyerang dan seram dalam bertahan.

Selama ini, dominasi di lini tengah sudah menjadi landasan sukses dalam sepak bola Prancis.

Dengan memadukan kemampuan untuk tanpa lelah merebut bola, dengan selalu siap menghadang agresi lawan dan kreatif memainkan bola, Prancis selalu mengontrol tempo pertandingan, efektif melindungi pertahanannya, dan ampuh dalam mengeksekusi transisi dari diserang menjadi menyerang.

Saat ini peran tersebut dijalankan bergantian oleh Aurelien Tchouameni, Manu Kone, dan Adrien Rabiot. Selama Piala Dunia 2026 mereka dipasangkan secara bergantian sebagai poros ganda permainan Les Bleus, entah itu dalam kombinasi Tchouameni-Rabiot, Rabiot-Kone, atau Tchouameni-Kone.

Mereka akan menjadi lawan berat duet Yasin Ayari - Elliot Stroud di pusat lini tengah Swedia yang biasanya memasang empat gelandang. Dua lainnya, adalah Gabriel Gudmundsson dan Alexander Bernhardsson yang ditempatkan menyamping di kiri dan kanan permainan Swedia.

Tapi fakta bek tengah Gustaf Lagerbielke menjadi pemain Swedia yang terbanyak melepaskan umpan dan paling sering bermanuver dari lini ke lini, menunjukkan Swedia bakal mengandalkan bek yang aktif membantu serangan, dan bahkan memainkan umpan-umpan jauh dari belakang.

Dengan memasang tiga bek plus lima gelandang atau sebaliknya lima bek plus tiga gelandang, pola serangan Blagult kerap dilakukan dengan cara memotong kepadatan di lini tengah, lewat umpan-umpan panjang langsung, dengan tujuan membongkar pertahanan lawan dan sekaligus untuk memudahkan transisi cepat yang mengandalkan kecepatan Elanga, Isak, dan Gyokeres.

Pola bermain seperti itu bisa melewati hadangan para gelandang Prancis dan mungkin mengejutkan Dayot Upamecano dan rekan-rekannya di lini belakang Les Bleus, tapi pola itu juga lebih sering gagal karena muatan spekulasinya yang kuat.

Prospek skenario pertandingan seperti itu sangat mungkin tersaji pada pertemuan ke-24 Prancis dan Swedia di MetLife Stadium, Rabu dini hari nanti. Rekam jejak kedua tim juga berpihak kepada Les Bleus, yang memenangi 12 dari 23 pertemuan sebelumnya.

Walau mungkin akan berjalan sengit, tapi, terutama karena pertahanan Swedia masih di bawah Prancis, pertandingan peringkat 2 dunia melawan 36 dunia ini lebih mungkin dimenangkan oleh Prancis, sehingga Les Bleusyang akan menjadi lawan Paraguay pada babak 16 besar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka