Wamenaker: Peningkatan Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Transformasi Dunia Kerja

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan peningkatan kompetensi menjadi faktor utama agar tenaga kerja Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja yang berlangsung semakin cepat.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, Afriansyah mengatakan transformasi dunia kerja dipicu oleh pesatnya perkembangan digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), perubahan demografi, hingga transisi menuju ekonomi hijau (green economy).

Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja, tetapi juga melahirkan berbagai jenis pekerjaan baru. Karena itu, diperlukan kebijakan yang mampu menjembatani kesenjangan antara kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

“Dalam konteks inilah, kebijakan pasar kerja aktif memegang peranan yang sangat vital. Kebijakan ini harus mampu menjadi jembatan untuk menyelaraskan ketidaksesuaian antara suplai tenaga kerja dengan kebutuhan industri yang bergerak dinamis,” kata Afriansyah.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan lima prioritas utama, yakni memperkuat program reskilling dan upskilling berbasis kebutuhan industri, mewujudkan pasar kerja yang inklusif, memperkuat dialog sosial dan kolaborasi multipihak, memodernisasi layanan ketenagakerjaan melalui bimbingan karier dan digitalisasi informasi pasar kerja, serta memperkuat berbagai program yang mendukung pencari kerja dan kewirausahaan.

Melalui berbagai langkah tersebut, Kemnaker berharap tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sehingga lebih siap menghadapi dinamika dunia kerja sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari proses transformasi.

Afriansyah menambahkan, Kemnaker juga terus memperluas kerja sama bilateral, regional, dan multilateral untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional.

Sebagai focal point ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM), Indonesia berperan aktif mengoordinasikan kerja sama ketenagakerjaan di kawasan, termasuk mengawal lahirnya berbagai dokumen strategis terkait masa depan dunia kerja.

Ia menekankan, keberhasilan menghadapi transformasi dunia kerja tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga membutuhkan kepemimpinan yang adaptif dan transformatif.

“Regulasi di atas kertas tidak akan pernah cukup tanpa hadirnya kepemimpinan yang transformatif. Masa depan dunia kerja menuntut para pemimpin yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki empati, ketangkasan, dan visi yang mampu menginspirasi perubahan di dalam organisasinya,” ujarnya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka