Jakarta (KABARIN) - Korporasi Pembiayaan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (U.S. International Development Finance Corporation/DFC) melihat peluang kolaborasi dengan Indonesia di berbagai sektor, mulai dari energi nuklir dan layanan keuangan hingga transportasi dan infrastruktur.
Kepala Bidang Kebijakan DFC Caroline Vik mengatakan pertemuan dengan pelaku usaha di Indonesia mengungkap berbagai potensi kerja sama di bidang energi nuklir dan jasa keuangan.
“Pertemuan kami dengan pelaku sektor swasta mengungkapkan berbagai peluang menarik di bidang energi nuklir dan jasa keuangan,” kata Caroline dalam jumpa pers daring yang diikuti dari Jakarta, Rabu.
Di tingkat pemerintah, DFC juga menilai terdapat prospek kolaborasi pada sektor transportasi, pembangunan infrastruktur, pelabuhan baru, serta penambangan dan pengolahan mineral kritis.
Selain itu, pembahasan turut mencakup upaya pemerintah Indonesia memperkuat ketahanan energi melalui pengembangan sektor hulu (upstream) serta infrastruktur penyimpanan dan distribusi energi di sektor menengah (midstream).
DFC merupakan lembaga pembiayaan pembangunan milik Pemerintah Amerika Serikat yang berperan mendukung diplomasi ekonomi dan pembangunan strategis melalui pembiayaan sektor swasta.
Setelah memperoleh perluasan kewenangan dari Kongres AS, kapasitas investasi DFC meningkat dari 60 miliar dolar AS menjadi 205 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,49 kuadriliun.
Sebelumnya, Caroline Vik melakukan kunjungan ke sejumlah negara Asia Tenggara, yakni Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, dan Indonesia pada 19–25 Juni.
Dalam lawatan tersebut, ia bertemu dengan pejabat pemerintah dan pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan ekonomi, meningkatkan keamanan ekonomi kawasan, serta menjajaki investasi di sektor energi, teknologi, mineral kritis, rantai pasok, farmasi, hingga infrastruktur strategis dan digital.
Sumber: ANTARA