Saat Stadion Bernyanyi untuk Kolombia Namun Swiss yang Berpesta

waktu baca 6 menit

Vancouver, Kanada (KABARIN) - Ada suasana yang langsung terasa berbeda begitu memasuki Stadion BC Place di Vancouver untuk menyaksikan pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Swiss dan Kolombia.

Berbeda dengan tiga laga sebelumnya di Vancouver dan Seattle, baru kali ini atmosfer pertandingan benar-benar mengingatkan pada sepak bola Indonesia.

Sepanjang 90 menit, nyaris tak ada jeda tanpa nyanyian penyemangat. Chant demi chant terus bergema dari tribun, menjaga ritme pertandingan.

Bagi yang biasa menyaksikan atmosfer pertandingan Liga Indonesia, pemandangan seperti ini terasa begitu akrab. Sorakan tidak hanya muncul ketika gol atau peluang tercipta, tetapi mengalir sejak peluit pertama hingga laga berakhir. Para suporter seakan menjadi bagian dari pertandingan.

Perjalanan menuju stadion sebetulnya sudah memberikan tanda bagaimana suasana pertandingan hari itu akan berlangsung.

Dari Stasiun Stadium-Chinatown hingga pelataran BC Place, lautan jersey kuning Kolombia memenuhi jalanan. Bendera nasional negara Amerika Selatan itu berkibar di berbagai sudut.

Di beberapa titik, para suporter bernyanyi sambil memukul drum dan meniup terompet. Ada yang berjalan sambil menari, ada pula yang berhenti sejenak untuk berfoto bersama orang yang baru saja mereka kenal.

Sepak bola kembali memperlihatkan kemampuannya menyatukan orang-orang yang sebelumnya asing satu sama lain.

Sekitar 52 ribu penonton menyaksikan pertandingan itu, laga terakhir Piala Dunia 2026 di Vancouver. Mayoritas adalah pendukung Kolombia yang sukses mengubah BC Place menjadi rumah kedua bagi timnas mereka yang dijuluki Los Cafeteros (Para Petani Kopi).

Ketika memasuki tribun, hamparan warna kuning tampak mendominasi pandangan. Dari berbagai penjuru stadion, nyaris hanya terlihat jersey Kolombia. Sesekali warna merah khas Swiss muncul di beberapa sektor dengan jumlah yang jauh lebih sedikit.

Atmosfer terasa memanas, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Riuh suporter terdengar saat para pemain keluar dari ruang ganti untuk pemanasan.

Nama-nama pemain Kolombia diteriakkan. Tepuk tangan membahana setiap kali mereka menyentuh bola. Sebaliknya, tiap kali pemain Swiss mendekati sisi lapangan, siulan panjang terdengar dari tribun.

Begitu peluit pertama berbunyi, suara pendukung Kolombia langsung mendominasi. Stadion bergemuruh setiap kali tim mereka menguasai bola. Drum ditabuh tanpa henti, tangan bertepuk mengikuti irama lagu, sementara chant terus mengalun bahkan ketika permainan dihentikan sementara. Tak ada jeda yang benar-benar sunyi.

Ada salah satu chant yang terdengar begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Melodinya mirip dengan chant yang sering dinyanyikan suporter, "Yo ayo ayo Indonesia, ku ingin kita pasti menang." Bedanya, lirik lagu itu berbahasa Spanyol, bahasa resmi Kolombia.

Suara puluhan ribu orang menyanyikan lagu dengan nada yang begitu akrab menimbulkan sensasi yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti mendengar lagu yang sama, tetapi lahir dari budaya sepak bola yang berbeda.

Dominasi Kolombia juga terasa ketika pertandingan dihentikan sejenak untuk hydration break.

Alih-alih memanfaatkan waktu rehat dalam suasana tenang, para penonton terus menghidupkan suasana stadion. Musik khas Amerika Latin terdengar dari pengeras suara. Kamera berkali-kali menyorot suporter Kolombia yang menari bersama. Ketika wajah mereka muncul di layar raksasa, stadion kembali riuh dengan teriakan suporter yang bergoyang mengikuti irama.

Hal serupa kembali terjadi saat turun minum. Lagu-lagu berbahasa Spanyol terus mengalun. Malam itu, BC Place benar-benar larut dalam pesta yang dibawa ribuan pendukung Kolombia.

Namun, di tengah keriuhan itu, ada sekelompok kecil penonton yang tidak pernah berhenti bersuara. Para pendukung Swiss tersebut seperti tak pernah kehilangan semangat meski kalah jumlah.

Dari salah satu sisi tribun, teriakan "Hopp Schwiiz" terus terdengar di sepanjang pertandingan. Mereka mengangkat syal merah-putih, menyanyikan lagu-lagu dukungan, dan membunyikan lonceng sapi yang sejak lama menjadi identitas suporter Swiss.

Denting lonceng mereka memang kalah keras oleh suara pendukung Kolombia, tetapi justru memberikan warna berbeda di tengah riuhnya stadion. Seolah mengingatkan bahwa Swiss datang ke arena dengan keyakinannya sendiri.

Semangat yang sama juga terlihat di atas lapangan. Meski bermain di bawah tekanan puluhan ribu pendukung lawan, para pemain Swiss tak pernah tampak gugup. Mereka tetap sabar mengalirkan bola, bertahan dengan disiplin, dan menunggu momen yang tepat untuk menyerang.

Sementara Kolombia terus mencoba menekan dengan dukungan penuh dari tribun. Sorakan semakin keras setiap kali Los Cafeteros memasuki sepertiga akhir lapangan. Ketika peluang tercipta, puluhan ribu orang serentak berdiri dari kursinya. Ketegangan seakan meruap. Setiap duel, setiap tekel, bahkan setiap lemparan ke dalam disambut dengan reaksi luar biasa dari tribun.

Selama lebih dari dua jam, Stadion BC Place seperti dikuasai oleh Kolombia. Dukungan hampir sepenuhnya berpihak kepada Los Cafeteros. Namun, pertandingan terpaksa dilanjutkan ke babak adu penalti.

Ketika Swiss memastikan kemenangan 4-3, suara-suara yang sedari awal menghidupkan stadion itu mendadak sirna. Tak ada lagi nyanyian, tak ada lagi teriakan. Seluruh atmosfer berubah dalam hitungan detik.

Sepak bola lagi-lagi menunjukkan bahwa dominasi tidak selalu berakhir dengan kemenangan.

Sebagian pendukung Kolombia menutup wajah mereka dengan tangan, lainnya hanya terdiam. Ada pula yang terus menatap papan skor seolah berharap angkanya bisa berubah.

Kesunyian itu kemudian pecah oleh suara kecil dari sudut tribun. Pendukung Swiss melompat kegirangan, lonceng sapi didentingkan, syal merah-putih dikibarkan. Mereka ikut menyanyikan lagu "Freed From Desire" yang terdengar dari pengeras suara.

Dalam hitungan detik, kelompok yang nyaris tak terdengar di sepanjang pertandingan berubah menjadi penonton paling berisik. Momen itu seperti membawa déjà vu.

Beberapa hari sebelumnya, ANTARA menyaksikan pemandangan serupa di Stadion Seattle ketika Belgia menghadapi Senegal. Kala itu, mayoritas penonton memberikan dukungan kepada Senegal. Stadion bergemuruh setiap kali wakil Afrika itu menyerang. Namun di akhir pertandingan, justru Belgia yang berpesta.

Dukungan dari tribun memang mampu memberikan energi, menciptakan tekanan, bahkan membuat sebuah tim serasa bermain di kandang sendiri. Namun, hasil pertandingan dipengaruhi oleh ketenangan, kualitas, dan mentalitas pemain di atas lapangan.

Para pemain Swiss sadar mereka harus bermain lebih dari dua jam di bawah tekanan puluhan ribu pendukung lawan. Namun, mereka berhasil melewatinya.

Di sisi lain, para suporter Kolombia seakan menunjukkan wajah lain dari sepak bola. Meski kecewa karena tim kesayangannya tersingkir, mereka tetap tenang seusai pertandingan.

Di luar stadion, musik khas Kolombia kembali terdengar. Banyak suporter terus bernyanyi, menari, dan berfoto bersama. Ada yang berpelukan, ada juga tetap tersenyum meski mata mereka tak bisa menyembunyikan kesedihan. Mereka menerima kekalahan dengan sikap dewasa.

Di tengah ribuan orang yang meninggalkan BC Place, lagu-lagu Amerika Latin masih mengalun. Beberapa pendukung Swiss ikut berfoto bersama suporter Kolombia. Rasa saling hormat telah menyatukan mereka. Barangkali, inilah salah satu wajah terbaik Piala Dunia.

Begitulah sepak bola.

Pertandingan tak selalu berujung pada hasil yang hitam-putih, ketika pemenang terus melenggang dan pecundang harus pulang. Usai peluit panjang dibunyikan, yang tertinggal bukan hanya angka pada papan skor, melainkan pengalaman yang akan terus hidup dalam kenangan banyak orang.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka