Belgia memiliki potensi lebih besar dalam mengimbangi Spanyol dibandingkan Portugal dan Uruguay
Jakarta (KABARIN) - Spanyol adalah satu-satunya tim yang belum pernah kebobolan selama Piala Dunia 2026, tapi itu terjadi bukan karena tim asuhan Luis de la Fuente memiliki penjaga gawang dan tim pertahanan terbaik dalam Piala Dunia ini.
Gawang La Roja tak tersentuh lawan lebih karena lawan kesulitan menembus sepertiga pertama Spanyol. Artinya, lawan-lawan Spanyol lebih sibuk menangkal serangan pemain-pemain La Roja, ketimbang berpikir untuk menyerang.
Indikatornya terlihat dalam jumlah peluang yang dibuat Spanyol dan kelima lawannya terdahulu.
Spanyol total membuat 93 peluang yang 32 di antaranya tepat sasaran, jauh di atas jumlah peluang yang dibuat lima lawannya terdahulu (Tanjung Verde, Arab Saudi, Uruguay, Austria, dan Portugal).
Kelima tim itu total membuat 29 peluang, yang bahkan masih kalah banyak dari total 32 peluang tepat sasaran yang dibuat Spanyol.
Spanyol bukan tim yang menunggu lawan menyerang, melainkan tim yang aktif mencegah lawan menyerang. Bagi Spanyol, pertahanan terbaik adalah menyerang.
Dengan proaktif, Spanyol berusaha mengacaukan rencana lawan, membunuh inisiatifnya, dan memaksa mereka cuma bisa bereaksi dari sengatan Spanyol.
Tim eksplosif seperti Spanyol hanya bisa dihadapi dengan dua cara. Pertama, bertahan total dan mengandalkan serangan balik. Tapi tim yang menghadapinya harus memiliki pertahanan yang kuat dan kiper yang tangguh.
Kedua, dengan balik menekan, dengan syarat memiliki pemain dengan kualitas setara dengan Spanyol, terutama di lapangan tengah.
Tanjung Verde, Arab Saudi, dan Austria menggunakan cara pertama, tapi yang efektif hanya Tanjung Verde karena tim ini memiliki kiper dan tim pertahanan yang tangguh dan disiplin.
Sedangkan Uruguay dan Portugal menghadapi Spanyol dengan cara balas menekan. Hasilnya, menghadapi Uruguay, Spanyol hanya bisa membuat enam peluang.
Portugal yang lebih proaktif dari pada Uruguay, membuat peluang terbanyak dengan 10 peluang yang 2 di antaranya tepat sasaran.
Paket lengkap
Belgia yang mencetak 12 dari total 13 golnya ke gawang Selandia Baru, Senegal dan Amerika Serikat, adalah lawan yang memiliki kualifikasi seperti Uruguay dan Spanyol, tapi juga memiliki pertahanan dengan kualifikasi seperti dimiliki Tanjung Verde yang memaksa Spanyol seri 0-0.
Setan Merah memiliki kemampuan tinggi dalam mendikte lapangan tengah dan melakukan tusukan ke sepertiga terakhir dalam frekuensi tinggi, serta juga memiliki sistem pertahanan dan kiper istimewa yang bisa menahan gempuran lawan.
Belgia, memang, sudah kebobolan lima kali, tapi tim asuhan Rudi Garcia ini adalah tim paling agresif dalam melancarkan tekanan di daerah pertahanan sendiri (defensive pressure) di antara delapan tim yang masuk perempat final Piala Dunia 2026.
Spanyol sering kesulitan menghadapi tim dengan defensive pressure tinggi.
Portugal yang susah payah mereka kalahkan dan Tanjung Verde yang memaksa mereka seri, adalah dua dari lima teratas melakukan defensive pressure tertinggi selama Piala Dunia 2026. Belgia berada tepat di bawah Portugal dan Tanjung Verde dalam aspek ini.
Belgia juga memiliki kemampuan tinggi dalam menguasai lapangan tengah sehingga serangan bisa leluasa mereka jalankan.
Kualifikasi Belgia dalam soal ini melebihi Uruguay, yang permainan menyerangnya membuat serangan Spanyol hanya bisa membuat 6 peluang walau akhirnya menang 1-0.
Dengan kapabilitas seperti itu, Belgia adalah paket lengkap untuk menjadi lawan ideal Spanyol. Belgia bakal bisa menjegal La Roja melangkah ke semifinal atau paling tidak menguji keseluruhan sistem permainan Spanyol, terutama lini pertahanannya yang belum teruji benar.
Dengan sistem yang seimbang di semua lini sehingga sama agresif saat menyerang dan saat bertahan, kinerja Belgia tidak kalah dari Prancis, bahkan mencetak gol dan peluang yang lebih banyak.
Dengan 13 golnya sejauh ini, Belgia hanya kalah dari Prancis dan Argentina, tapi menjadi tim terbanyak membuat peluang gol.
Setan Merah telah membuat 107 peluang yang 33 di antaranya tepat sasaran, sedangkan Spanyol menciptakan 93 peluang dengan 32 di antaranya tepat sasaran.
Tapi, walau kalah banyak dalam membuat peluang, La Roja memiliki rasio lebih tinggi dalam total peluang terhadap peluang on target: 34% berbanding 30%. Tak heran, Spanyol memiliki xG agak lebih tinggi: 10,56 vs 10,28.
Sengit di sayap
Statistik menunjukkan Belgia memiliki kemampuan melawan yang lebih baik daripada lawan-lawan La Roja terdahulu. Tetapi hal itu tak akan mengubah Spanyol sebagai tim yang mengendalikan pertandingan, karena kemampuan La Roja dalam melakukan manuver lini ke lini, membuka ruang serangan, dan membuat sentuhan di sepertiga akhir, yang lebih tinggi dibandingkan Belgia.
Dalam konteks ini, peran Rodri, Pedri, dan Lamine Yamal sangat penting bagi Spanyol.
17 persen dari total umpan Spanyol mengalir dari kaki Rodri, sedangkan Pedri menjadi pemain Spanyol teraktif dalam membuka ruang umpan dan pressing dengan frekuensi 195 kali.
Lain halnya dengan Yamal, yang menjadi pemain Spanyol paling sering menjadi tujuan umpan, sampai menerima 119 umpan. Angka itu berada di atas yang diterima Leandro Trossard di Belgia.
Trossard juga pemain Belgia teraktif melakukan pressing, walau frekuensinya masih di bawah Pedri.
Trossard dan Youri Telemans, yang menjadi pemain Belgia teraktif dalam membuka ruang dan manuver lini ke lini, adalah dua dari beberapa pemain Belgia yang harus mendapatkan perhatian ekstra dari Spanyol.
Kemitraan Tielemans dengan Amadou Onana atau Nicolas Raskin atau Hans Vanaken di lapangan tengah dalam sistem 4-2-3-1, bisa merusak dominasi Rodri di poros permainan Spanyol yang setia pada pola 4-1-2-3. Tapi Onana dipastikan absen karena cedera.
Jika Belgia mengimbangi dominasi lapangan tengah Spanyol, maka Kevin de Bruyne, yang membuat 23 umpan silang dan berada di belakang ujung tombak Romelu Lukaku atau Charles Katelaere, akan lebih leluasa dalam merancang serangan Belgia.
Tak hanya itu, laga ini juga akan menjadi pertarungan di sayap, di mana mayoritas gol yang dibuat kedua tim dalam lima laga terdahulu berawal dari aransemen di kawasan ini.
Apakah Maxim Cuyper-Jeremy Doku di sayap kiri permainan Belgia, yang membuat 113 sentuhan di sepertiga terakhir, lebih baik dari pada Marc Cucurella-Alex Baena di sayap kiri Spanyol yang membuat 114 sentuhan?
Apakah Timothy Castagne-Leandro Trossard lebih baik daripada sayap kanan Spanyol yang diisi Pedro Porro dan Mikel Oyarzabal yang pencetak gol terbanyak Spanyol?
Belgia memiliki potensi lebih besar dalam mengimbangi Spanyol dibandingkan Portugal dan Uruguay, yang untuk itu punya potensi besar untuk memenangkan laga ini.
Tapi, riwayat pertemuan kedua tim lebih berpihak kepada Spanyol. La Roja memenangkan 12 dari 22 pertemuan dengan Belgia sebelum ini.
Bahkan dalam lima pertemuan terakhir, dari Oktober 2004 sampai September 2016, Setan Merah selalu menjadi pihak yang kalah. Ini bisa menjadi petunjuk ke mana kemenangan berlabuh, tapi bisa juga menjadi titik balik bagi Belgia.
Sumber: ANTARA