Hal ini didukung oleh sinergi bauran kebijakan yang erat antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat stabilitas...
Jakarta (KABARIN) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit negara Indonesia di level BBB dengan prospek stabil mencerminkan kuatnya kepercayaan pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi nasional.
Menurut Perry, penegasan peringkat tersebut juga menunjukkan keyakinan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid di tengah ketidakpastian global.
“Hal ini didukung oleh sinergi bauran kebijakan yang erat antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Perry dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ke depan, BI juga akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah, termasuk menyelaraskan kebijakan moneter dan fiskal untuk memitigasi dampak ketidakpastian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah, terhadap perekonomian nasional.
Selain itu, sinergi bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sektor keuangan sekaligus mendukung pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah dalam Asta Cita.
Sebelumnya, pada Senin (13/7), S&P Global Ratings kembali menegaskan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, sehingga status Indonesia sebagai negara investment grade tetap terjaga.
S&P menilai pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal bersifat sementara serta diperkirakan membaik seiring implementasi kebijakan pemerintah yang semakin konsisten.
Lembaga pemeringkat tersebut juga memperkirakan penerimaan negara akan terus pulih tahun ini, sementara pendapatan ekspor meningkat sejalan dengan membaiknya harga komoditas.
Di sisi lain, komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) dinilai menjadi faktor penting dalam mempertahankan keberlanjutan fiskal.
S&P menyebut peluang peningkatan peringkat kredit Indonesia tetap terbuka apabila indikator fiskal dan eksternal terus menguat. Dari sisi fiskal, hal itu didukung oleh penurunan defisit anggaran secara berkelanjutan, peningkatan penerimaan negara, biaya pembiayaan yang lebih rendah, serta stabilitas nilai tukar.
Sementara dari sisi eksternal, peningkatan peringkat dapat didorong oleh menurunnya utang luar negeri serta berkurangnya kebutuhan pembiayaan eksternal bruto.
Sumber: ANTARA