Washington (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan tegas kepada Iran di tengah aksi demonstrasi besar yang terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Ia menyebut Washington siap mengambil langkah militer jika aparat Iran sampai bertindak brutal terhadap para demonstran.
“Jika mereka mulai membunuh orang, yang cenderung mereka lakukan saat kerusuhan, mereka sering mengalami kerusuhan. Jika mereka melakukannya, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras,” ujar Trump dalam wawancara dengan The Hugh Hewitt Show pada Kamis (8/1).
Trump menegaskan Iran sebenarnya sudah menerima peringatan serius dari Amerika Serikat. Menurutnya, konsekuensi berat akan langsung dihadapi jika tindakan kekerasan benar benar dilakukan.
“Mereka sudah diperingatkan dengan sangat tegas, bahkan lebih tegas daripada yang saya sampaikan kepada Anda sekarang, bahwa jika mereka melakukan itu, mereka akan menanggung akibat yang sangat berat,” katanya.
Pernyataan Trump sejalan dengan sikap Wakil Presiden AS JD Vance yang menyatakan dukungan terhadap aksi unjuk rasa damai di berbagai negara, termasuk di Iran.
“Kami tentu berdiri bersama siapa pun yang terlibat dalam protes damai … yang memperjuangkan hak-hak mereka,” kata Vance kepada wartawan saat konferensi pers di Gedung Putih.
Meski begitu, Vance menekankan bahwa jalur diplomasi tetap penting, khususnya terkait program nuklir Iran. Ia menyebut langkah paling masuk akal bagi Teheran adalah membuka ruang dialog yang serius dengan Amerika Serikat.
Gelombang protes di Iran sendiri mulai pecah pada 28 Desember di kawasan Grand Bazaar Teheran, yang dikenal sebagai pusat perdagangan ibu kota. Aksi tersebut dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial serta kondisi ekonomi yang makin tertekan. Nilai tukar rial bahkan sempat melewati angka 1.350.000 per dolar AS, memicu kemarahan publik dan meluas ke berbagai kota.
Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi jumlah korban. Namun laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia atau Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang terbit Rabu menyebut sedikitnya 38 orang meninggal dunia, termasuk empat personel keamanan, pada hari ke-11 demonstrasi.
HRANA juga mencatat puluhan orang mengalami luka luka dan sebanyak 2.217 orang ditangkap selama rangkaian protes berlangsung.
Di sisi lain, Kantor Berita Tasnim melaporkan jumlah polisi yang terluka akibat bentrokan meningkat menjadi 568 orang. Selain itu, sebanyak 66 anggota pasukan relawan paramiliter Basij juga dilaporkan mengalami cedera.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026