News

Istana: Kasus Siswa SD di NTT Jadi Perhatian Khusus Presiden Prabowo

Jakarta (KABARIN) - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang juga juru bicara Presiden menyampaikan keprihatinan mendalam terkait insiden tragis seorang siswa SD di NTT yang mengakhiri hidupnya. Kejadian ini menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto.

"Kami tentunya mewakili pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan kami telah berkoordinasi dengan jajaran terkait, karena bagi kami, bagi kita semua, ini adalah kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi," kata Prasetyo Hadi saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu malam.

Prasetyo menambahkan Presiden Prabowo meminta agar seluruh pihak terkait berkoordinasi supaya insiden serupa bisa dicegah di masa depan.

"Oleh karena itulah, Bapak Presiden menaruh atensi, dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal semacam ini dapat kita antisipasi," ujarnya.

Kementerian Sekretaris Negara juga telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti untuk memperhatikan kondisi keluarga korban yang termasuk dalam kategori miskin ekstrem.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga, dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali," jelas Pras, sapaan akrabnya.

Mengenai isu keluarga korban tidak mendapatkan bantuan sosial karena masalah administrasi, Prasetyo menegaskan pemerintah menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

"Biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian untuk melakukan pendalaman," katanya.

Pras juga menekankan pentingnya menumbuhkan kepedulian sosial di semua tingkat. "Kita harus meningkatkan kepedulian sosial di antara kita semua dari setiap level, tingkatan," ujarnya.

Dia menambahkan dukungan lingkungan dan sekolah sangat vital.

"Bagaimana pun selain di faktor keluarga, faktor lingkungan, juga di sekolah menjadi sangat penting, edukasi, dan terutama berkenaan dengan masalah mental adik-adik kita supaya jika mengalami sebuah tekanan, atau mengalami sebuah permasalahan untuk dapat menyampaikan kepada guru-guru mereka di sekolah. Semua upaya kita coba cari supaya kita mengantisipasi, supaya tidak terjadi kembali," kata Pras.

Insiden ini menimpa seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT yang meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, MGT berusia 47 tahun.

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

“Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Pewarta: Genta Tenri Mawangi, Maria Cicilia Galuh
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: