Jakarta (KABARIN) - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi yang juga jadi Juru Bicara Presiden RI menekankan pentingnya kepala desa dan kepala dusun selalu memantau warganya, terutama mereka yang termasuk kelompok rentan.
Menurut Prasetyo, langkah proaktif ini penting untuk mencegah insiden tragis seperti yang dialami seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, agar tidak terulang lagi.
"Kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring, dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk, atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah," ujar Prasetyo saat ditemui di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu malam.
Pras, sapaan akrab Prasetyo, menekankan pemerintah daerah harus aktif mengecek kondisi warganya supaya negara hadir bagi masyarakat yang masuk kategori miskin ekstrem dan miskin.
Ia juga memastikan pemerintah akan mencari cara agar insiden seperti di NTT tidak kembali terjadi. Koordinasi telah dilakukan dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.
"Kami memastikan kalau pun belum bisa kita berdayakan secara mandiri, tetapi kehadiran atau intervensi pemerintah harus kita pastikan untuk menyentuh ke seluruh lapisan terutama yang paling bawah sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang kembali," jelas Pras.
Pras menambahkan insiden di NTT juga jadi bahan evaluasi untuk kebijakan penghapusan kemiskinan, termasuk pendataan, pelaporan, dan kepedulian sosial.
Kejadian ini bermula saat seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya, MGT yang berusia 47 tahun.
Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:
“Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibudanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.
Sumber: ANTARA