Indonesia tentu harus mempelajari bagaimana Superbowl bisa menjadi penggerak roda ekonomi
Jakarta (KABARIN) - Ketika media sosial sibuk membahas isu-isu seperti skandal Jeffrey Epstein, konflik global dan geopolitik, hingga ramainya warganet Indonesia di platform X yang serampangan memberikan penilaian buku "baik atau buruk", dalam 24 jam terakhir hiruk pikuk tersebut seakan ditimbun oleh aksi rapper Bad Bunny.
Bad Bunny yang tampil mengisi hiburan paruh waktu Super Bowl 2026 di Levi's Stadium, Santa Clara, Amerika Serikat, Minggu waktu setempat, memberikan pertunjukan yang langsung jadi perbincangan karena aksi yang tak hanya memukau tapi juga syarat akan budaya dan suara kritik terhadap kondisi politik di Amerika Serikat hari ini.
Musisi berdarah Puerto Rico tersebut tampil dalam kurun waktu 13 menit dengan membawakan lagu-lagu popularnya "Nuevayol", "Baile Inolvidable", hingga "DtMF" yang merupakan daftar lagu yang termaktub dalam album "DeBi TiRAR MaS FOTos" yang menjadi album terbaik tahun ini dalam pergelaran Grammy Awards 2026.
Penyanyi bernama asli Benito Antonui Martinez Ocasio itu menjadi musisi pertama yang menyanyikan lagu berbahasa Spanyol sepanjang penyelenggaraan paruh waktu Super Bowl yang telah berlangsung selama 60 tahun.
Dalam kesempatan yang tak datang dua kali tersebut, Bad Bunny berjalan dengan bola di tangannya dan membawa pesan di reklame "Satu-satunya yang jauh lebih kuat dari kebencian adalah cinta".
Kampanye Bad Bunny
Pada penampilannya di paruh waktu Super Bowl 2026, Bad Bunny memanfaatkan panggung yang berdurasi 15 menit tersebut menjadi arena untuk mempresentasikan sejarah, budaya, dan asal-usul, terutama mengenai akar budayanya yakni Puerto Rico.
Pertunjukan Bad Bunny dimulai dengan latar ladang gula yang membawa pesan mengenai kritik terhadap eksploitasi pekerja yang ada di Puerto Rico.
Lalu dilanjutkan dengan aksi panggungnya di atap rumah tradisional Puerto Rico, La Casita dan mendendangkan "Yo Perro Sola" yang merupakan lagu dengan pesan anti-misogini, yang disuarakannya untuk mendukung perempuan sejak tahun 2020.
Di teras rumah La Casita terdapat bintang-bintang ternama asal Kolombia Karol G dan Pedro Pascal, juga penyanyi yang lahir di Chile Cardi B, penyanyi berdarah Meksiko Jessca Alba, atlet baseball Venezuela Ronald Acuna Jr, dan penyanyi Puerto Rico Young Miko yang menjadi identitas komunal Amerika Latin demi menyuarakan kampanye persatuan dan independen.
Aksi yang syarat akan kampanye kembali dilakukan Bad Bunny ketika membawakan lagu "El Apagon". Dia bernyanyi di miniatur tiang listrik sebagai bentuk protes kepada pemerintah akan kondisi "blackout" yang menimpa wilayah Amerika Serikat selama beberapa bulan imbas dari Badai Maria pada tahun 2017.
Pertunjukan ikonik dilakukan Bad Bunny ketika memberikan piala Grammy Award 2026 kepada anak kecil, Liam Conejo Ramos, yang menjadi korban penahanan Agen Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang terjadi pada akhir Januari lalu.
Penutup aksi "kampanye" Bad Bunny adalah ketika menyebut nama-nama negara di benua Amerika dan mengkampanyekan "Bersama kita adalah Amerika" sebagai wujud persatuan dan solidaritas di tengah isu migrasi yang menjadi persoalan serius di Amerika Serikat hari-hari ini. Bad Bunny kemudian keluar dari lapangan sambil mendendangkan lagu popularnya "DtMF".
Penampilan "kampanye" Bad Bunny di Levi's Stadium langsung menuai kritikan pedas dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut bahwa penampilan tersebut tidak merepresentasikan standar Amerika Serikat.
"Tidak ada seorang pun yang paham dari apa yang dikatakan orang ini (Bad Bunny)," kata Trump seperti dalam laporan New York Times, Selasa.
Bad Bunny memang vokal terhadap kebijakan Trump terutama terkait dengan imigrasi yang menyangkut ICE. Beberapa hari sebelum penampilannya, Bad Bunny melontarkan kritikan tajam mengenai kebijakan imigrasi ketika berada di panggung Grammy Awards 2026.
Dengan penampilannya yang menyihir panggung hiburan paruh waktu Super Bowl 2026, Bad Bunny juga seakan membawa bara api perselisihan menghadapi kebijakan Trump.
Terlepas dari kampanye, Bad Bunny telah berhasil membawa pesta khususnya untuk Amerika Latin lewat sajian tarian salsa, perreo di Santa Clara dengan rata-rata ditonton sebanyak 100 juta orang di seluruh dunia.
Belajar dari Super Bowl
Turnamen olahraga itu punya kemasan panggung hiburan yang selalu ditunggu oleh jutaan penonton dari seluruh dunia. Indonesia harus belajar banyak dari penyelenggaraan Super Bowl, yang kini menjadi salah satu kompetisi olahraga dengan penonton terbanyak.
Super Bowl telah melampaui statusnya sebagai laga kejuaraan Nation Football League (NFL) menjadi peristiwa budaya dengan magnet yang menjangkau lintas benua. Sebuah event yang berhasil menggabungkan olahraga, musik, dan hiburan yang menyuguhkan pengalaman holistik yang begitu digemari oleh para penonton.
Di sisi ekonomi, Super Bowl menjadi penggerak perputaran ekonomi. Dalam laporan Forbes, pada tahun 2025 terdapat perputaran belanja langsung sebesar Rp16,3 triliun dari perhelatan ini. Lalu membuka penciptaan lapangan kerja yang mempunyai valuasi sebesar Rp3,8 triliun, serta pertambahan pendapatan pajak mencapai Rp 490 miliar.
Indonesia tentu harus mempelajari bagaimana Superbowl bisa menjadi penggerak roda ekonomi karena berhasil menjadi kemasan sportainment yang sudah menjadi ikatan sosial para penggemar.
Dengan kemajemukan budaya yang dimiliki Indonesia serta penggemar olahraga baik di cabang sepak bola, bulu tangkis, bola voli, atau basket yang terkenal fanatik tentu kita sudah mempunyai modal untuk membuat panggung sportainment ala Superbowl.
Persoalannya adalah bagaimana proses integrasi antara narasi budaya, olahraga dan kesiapan platform untuk bisa memberikan pengalaman yang tak terlupakan kepada para penonton di tanah air.
Copyright © KABARIN 2026