News

Kenali Gejala "Burnout" yang Sering Muncul Selama Ramadhan

Jakarta (KABARIN) - Perubahan rutinitas selama Ramadhan dan padatnya aktivitas sehari-hari bisa memicu kelelahan fisik dan mental atau burnout.

Psikolog klinis di Rumah Sakit RAK, Uni Emirat Arab, Zobia Amin menjelaskan bahwa perubahan mendadak dalam rutinitas harian, puasa, pola tidur yang bergeser, kewajiban ibadah malam, hingga tanggung jawab sosial dan pekerjaan bisa menambah beban fisik dan psikologis secara kumulatif.

“Puasa, perubahan pola tidur, peningkatan kewajiban keagamaan dan sosial, serta tanggung jawab pekerjaan yang berkelanjutan dapat secara kumulatif membebani sumber daya fisik dan psikologis,” kata Zobia.

Fluktuasi gula darah dan hidrasi saat puasa memengaruhi energi dan fokus, sementara bangun sahur dan ibadah malam bisa mengurangi kualitas tidur dan memengaruhi fungsi kognitif serta regulasi emosi. Stres dari pekerjaan dan agenda sosial membuat seseorang kadang merasa kewalahan.

Tanda-tanda burnout di Ramadhan antara lain rasa lelah yang tidak hilang meski sudah istirahat, perubahan mood, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, sakit kepala, ketegangan otot, atau masalah pencernaan.

Spesialis psikiatri di Rumah Sakit Zulekha, Dubai, dr. Raga Sandhya Gandhi menambahkan bahwa puasa jarang menjadi satu-satunya penyebab burnout. Perubahan rutinitas, pola tidur, dan pola makan juga ikut berperan. Dehidrasi, ketiadaan kafein, dan gangguan tidur bisa menurunkan mood, kewaspadaan, dan meningkatkan hormon stres.

“Selama Ramadhan, faktor-faktor ini sering terjadi bersamaan, menyebabkan kelelahan, mudah tersinggung, gelisah, sakit kepala, dan penurunan kewaspadaan,” jelas Raga.

Orang dengan kondisi kesehatan fisik atau mental sebelumnya, pekerja dengan jam kerja panjang atau jadwal bergilir, serta individu dengan dukungan sosial terbatas berisiko lebih tinggi mengalami burnout.

Langkah pencegahan termasuk memastikan cukup tidur, menjaga pola makan seimbang meski berpuasa, menetapkan ekspektasi realistis untuk pekerjaan dan sosial, serta praktik mindfulness dan relaksasi untuk mengelola stres.

“Intervensi dini oleh profesional kesehatan mental bisa membantu individu mengelola stres dan mencegah masalah psikologis lebih serius karena tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental,” kata Zobia.

Penerjemah: Fitra Ashari
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: