Jadi karena kesepakatan itu, kita beli terpaksa dengan harga relatif mahal, bukan lagi mempertimbangkan kompetitif barang,
Jakarta (KABARIN) - Kesepakatan pembelian sejumlah komoditas pertanian dari Amerika Serikat dinilai berpotensi menekan Indonesia karena harganya relatif lebih tinggi dibanding pemasok lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.
"Beberapa komoditas pangan dari AS itu relatif mahal dibandingkan yang biasa kita beli," kata Peneliti CORE Indonesia Eliza Mardian saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
"Jadi karena kesepakatan itu, kita beli terpaksa dengan harga relatif mahal, bukan lagi mempertimbangkan kompetitif barang," tambahnya.
Dalam kesepakatan dagang Indonesia-AS yang disepakati pada 19 Februari 2026, Indonesia berkomitmen membeli produk pertanian senilai lebih dari 4,5 miliar dolar AS. Pembelian ini mencakup kedelai, jagung, gandum, kapas, dan daging sapi.
Indonesia akan mengimpor minimal 3,5 juta metrik ton kedelai per tahun dari AS selama lima tahun. Selain itu, Indonesia juga membeli 3,8 juta metrik ton bungkil kedelai per tahun, gandum 2 juta metrik ton per tahun, dan kapas 163.000 metrik ton per tahun selama lima tahun.
Menurut Eliza, harga komoditas dari AS memang lebih tinggi dibanding pemasok lain sehingga Indonesia harus membayar lebih mahal untuk produk yang sebenarnya bisa didapat dengan harga lebih murah di pasar global.
Dia mencontohkan, jagung dari Argentina dijual 193 dolar AS per metrik ton, sementara dari AS 194 dolar AS per metrik ton. Gandum dari Rusia 228 dolar AS per metrik ton, sedangkan dari AS 233 dolar AS per metrik ton. Kedelai dari Argentina 405 dolar AS per metrik ton, sementara dari AS 418 dolar AS per metrik ton.
Menghadapi kondisi ini, Eliza menyebut pemerintah perlu strategi agar industri domestik tetap terlindungi. Salah satunya adalah memberi subsidi bagi pelaku industri yang memakai bahan baku dalam negeri.
Contohnya subsidi jagung untuk pakan ternak bagi peternak skala kecil, yang sekaligus mendukung petani jagung dan peternak.
Proteksi terhadap petani dan peternak tetap dianggap krusial. Menurut Eliza, jika petani enggan menanam karena kalah bersaing dengan impor, produksi bisa turun sementara kebutuhan terus meningkat.
Situasi ini berisiko membuat Indonesia semakin tergantung pada impor dan rentan terhadap gejolak geopolitik.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026