Jakarta (KABARIN) - Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Agustini Rahayu mengatakan film Pelangi di Mars menjadi bukti sineas Indonesia yang berani mewujudkan keberaniannya mengeksplorasi genre fiksi ilmiah yang masih jarang dilakukan di industri perfilman Indonesia.
"Hal ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia tidak hanya berkembang dari sisi narasi, tapi juga dari kemajuan teknologi produksinya untuk mengeksplorasi genre fiksi ilmiah atau sci-fi yang selama ini masih jarang digarap dalam perfilman nasional," kata Ayu dalam acara intimate screening Pelangi di Mars di Jakarta, Jumat.
Film ini juga jadi yang pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi XR atau Extended Reality berbasis Unreal Engine, sehingga live action bisa digabung dengan XR secara real time.
Ayu menambahkan, kolaborasi antara para kreator, rumah produksi, mitra teknologi, dan stakeholder lain membuat film ini berhasil jadi karya yang inovatif.
"Industri film Indonesia saat ini sedang berada dalam momentum yang sangat baik.Tren ini juga terlihat dari semakin banyaknya film nasional yang mampu menembus jutaan penonton dan mendominasi daftar film terlaris di dalam negeri," kata Ayu.
Selain inovasi teknologi, Pelangi di Mars juga mengangkat isu keberlanjutan lingkungan yang relevan dengan tantangan global sekarang. Pesan ini penting bagi generasi muda yang semakin peduli dengan bumi.
Ayu juga menyoroti perkembangan ekosistem industri film Indonesia, mulai dari memperluas akses pasar, promosi, distribusi, hingga membuka peluang kolaborasi internasional.
Kemenekraf akan mendukung skema pembiayaan kekayaan intelektual agar karya kreatif memiliki sumber pendanaan lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat ekosistem film nasional.
"Agar film Indonesia semakin diminati dan memiliki jangkauan yang lebih luas baik di pasar domestik maupun global," katanya.
Ia berharap standar baru yang dibawa Pelangi di Mars bisa jadi inspirasi bagi lebih banyak film Indonesia untuk berani bereksperimen dengan teknologi baru dan mengeksplorasi berbagai genre.
Ayu pun berharap kehadiran film ini semakin menguatkan ekosistem film nasional sekaligus menegaskan sineas lokal mampu memproduksi film science fiction berstandar global.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026