Jakarta (KABARIN) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, (ESDM) Bahlil Lahadalia, tengah melakukan pembahasan bersama pelaku usaha swasta pengelola SPBU untuk menentukan skema harga BBM nonsubsidi yang dinilai paling tepat di tengah kenaikan harga minyak global.
“Menyangkut dengan harga BBM nonsubsidi, kami lagi melakukan pembahasan. Pembahasan ini sudah barang tentu melibatkan badan swasta lainnya,” ujar Bahlil.
Ia menjelaskan bahwa proses diskusi masih berjalan dan pemerintah berupaya menemukan formulasi yang seimbang, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi.
Harga minyak dunia saat ini diketahui berada di atas 100 dolar AS per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di kisaran 60 dolar AS per barel.
“Sampai dengan sekarang, kami lagi mengatur dan mencari formulasi yang baik dan bijaksana. Tunggu sampai selesai, saya akan kabari,” ujar Bahlil.
Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk menahan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, sejak awal April 2026. Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, setelah koordinasi lintas kementerian dan perusahaan energi negara.
Langkah tersebut diambil agar masyarakat tidak terbebani kenaikan harga di tengah kondisi global yang belum stabil. Pemerintah juga memastikan pasokan BBM nasional tetap aman sehingga tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan.
Di sisi lain, kebijakan menahan harga ini membuat selisih antara biaya produksi dan harga jual semakin lebar. Kondisi ini sementara ditanggung oleh Pertamina.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyebutkan bahwa Pertamina masih mampu menanggung selisih tersebut selama harga BBM nonsubsidi belum disesuaikan mengikuti pasar.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026