Istanbul (KABARIN) - Pemerintah Iran memberi sinyal bahwa jalur penting Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya dibuka untuk aktivitas pelayaran tanpa syarat tertentu. Mereka ingin sebagian pemasukan dari jalur tersebut dipakai untuk menutup kerugian akibat konflik yang terjadi.
Pernyataan ini disampaikan oleh Mehdi Tabatabai dari kantor presiden Iran lewat media sosial. Ia menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur itu bergantung pada kesepakatan soal kompensasi kerusakan akibat perang.
“Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan,” kata Tabatabai.
Selain itu, Tabatabai juga melontarkan kritik keras kepada Presiden Donald Trump. Ia menilai pernyataan Trump tidak masuk akal dan penuh emosi. Bahkan ia menuduh Trump menjadi pihak yang memicu konflik besar di kawasan dan justru membanggakannya.
Situasi di kawasan Timur Tengah sendiri masih tegang sejak serangan gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Serangan itu dilaporkan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk tokoh penting Iran saat itu Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah yang dianggap terkait, seperti Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang memiliki fasilitas militer AS.
Di tengah situasi tersebut, Iran juga sempat membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia. Kebijakan ini berdampak besar terhadap aktivitas perdagangan global, terutama sektor minyak dan gas.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026