Jakarta (KABARIN) - Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Senin seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat gagalnya negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS seiring gagalnya putaran kedua negosiasi perdamaian AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan menguatkan dolar AS,” katanya di Jakarta, Senin.
Meski demikian, pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah justru sempat menguat tipis 18 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.211 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.229 per dolar AS.
Mengutip Anadolu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak akan melakukan perundingan dalam kondisi tekanan, ancaman, maupun blokade. Ia menilai terciptanya suasana yang kondusif dan adanya titik temu menjadi syarat utama agar dialog dapat berjalan efektif.
Pezeshkian juga menyebut pengalaman negosiasi sebelumnya menimbulkan ketidakpercayaan publik di Iran, karena berlangsung bersamaan dengan sanksi dan tekanan. Ia menekankan perlunya penghentian sikap permusuhan serta jaminan agar kondisi serupa tidak terulang.
Di sisi lain, proses diplomasi juga diwarnai ketidakpastian setelah Utusan Khusus Presiden AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan berangkat pada Sabtu (25/4), namun sejumlah laporan menyebut delegasi Iran telah lebih dahulu meninggalkan Pakistan.
Selain faktor eksternal, Lukman menilai tekanan terhadap rupiah juga berasal dari domestik, terutama terkait kekhawatiran defisit anggaran serta belum adanya sinyal kenaikan suku bunga dari Bank Indonesia (BI).
“Walau demikian, seperti yg disampaikan pada hari Kamis (23/4), BI akan meningkatkan intensitas intervensi untuk mendukung rupiah,” ucap Lukman.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026