Washington (KABARIN) - Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Gerald R. Ford dikabarkan akan meninggalkan kawasan Timur Tengah dan mulai berlayar kembali dalam beberapa hari mendatang.
Langkah ini disebut menjadi kabar baik bagi sekitar 4.500 pelaut yang telah bertugas selama 10 bulan. Namun, di sisi lain, penarikan tersebut juga dinilai mengurangi kapasitas kekuatan serangan AS di kawasan, di tengah stagnasi pembicaraan damai antara AS dan Iran, sebagaimana dilaporkan Washington Post pada Rabu (29/4).
Gugus Serang Kapal Induk Ford (Ford Carrier Strike Group) sebelumnya memulai penugasan pada 24 Juni 2025 dari Virginia, AS. Dalam perjalanannya, kapal tersebut sempat berada di wilayah Komando Eropa AS, kemudian dikerahkan ke Amerika Latin untuk operasi pemberantasan narkotika, sebelum akhirnya ditempatkan di Timur Tengah menyusul meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Kapal ini menjadi salah satu dari tiga kapal induk AS yang beroperasi di kawasan tersebut, bersama USS George H.W. Bush dan USS Abraham Lincoln.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima pengarahan dari Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Kamis (30/4) terkait opsi rencana aksi militer terhadap Iran, menurut laporan media Axios.
Pengarahan tersebut disebut menunjukkan bahwa Gedung Putih masih mempertimbangkan kemungkinan operasi militer besar, baik sebagai upaya menekan kebuntuan diplomasi maupun sebagai langkah militer jika negosiasi gagal.
Laporan itu juga menyebut CENTCOM telah menyiapkan sejumlah skenario serangan singkat dan intens terhadap Iran, yang menargetkan infrastruktur penting, dengan tujuan menekan pihak Teheran dalam proses perundingan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026