Jakarta (KABARIN) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengkaji dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) serta beban subsidi energi nasional.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pembahasan tersebut tengah dilakukan bersama sejumlah kementerian terkait.
“Kebetulan Pak Menteri (ESDM) bersama jajaran menteri lain sedang merapatkan hal tersebut, jadi kita tunggu,” ujarnya di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan, pemerintah saat ini masih memantau perkembangan lebih lanjut terkait pengaruh kurs terhadap kebijakan harga energi.
“Belum ada info-info lain selain yang ada sekarang. Kami lihat perkembangan berikutnya saja nanti,” kata Laode.
Menurutnya, harga BBM tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak dunia, tetapi juga oleh faktor lain seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini berada di level Rp17.515 per dolar AS, setelah menguat tipis 14 poin atau 0,08 persen dari penutupan sebelumnya di Rp17.529 per dolar AS.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap menjaga stabilitas pasar obligasi untuk membantu meredam tekanan terhadap rupiah.
Ia menyebut langkah tersebut dilakukan melalui bond stabilization fund (BSF), termasuk kemungkinan mekanisme pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara (SBN) dengan memanfaatkan anggaran yang tersedia.
Purbaya juga menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar sesuai mandatnya.
Sementara itu, intervensi di pasar obligasi dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil SBN agar tidak memicu capital outflow dari investor asing.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026