Itu turun, sekarang hingga mendekati 1 (ppm). Jadi setiap 1 juta yang beredar, ditemukan 1 uang palsu
Jakarta (KABARIN) - Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah temuan uang rupiah palsu menurun dalam tiga tahun terakhir, dari rasio 5 piece per million (ppm) atau 5 lembar per 1 juta uang beredar pada 2023 menjadi 1 ppm pada April 2026.
“Ppm itu piece per million, berarti 5 lembar per 1 juta uang yang beredar. Itu turun, sekarang hingga mendekati 1 (ppm). Jadi setiap 1 juta yang beredar, ditemukan 1 uang palsu,” kata Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu.
Ricky mengatakan, uang rupiah semakin sulit untuk dipastikan seiring dengan penguatan kualitas, baik bahan uang, teknologi cetak, dan unsur pengaman yang semakin modern.
Menurutnya, capaian atas penurunan tren temuan uang palsu ini juga tidak lepas dari sinergi dan koordinasi yang erat dari berbagai unsur Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu (Botasupal) yaitu Badan Intelijen Negara, Kepolisian Negara RI, Kejaksaan Agung, dan Kementerian Keuangan, termasuk juga Mahkamah Agung dan Pengadilan Negeri.
Ricky menyebut peningkatan kualitas uang rupiah mendapat pengakuan dunia, salah satunya tercermin dari penghargaan Uang Rupiah Tahun Emisi (TE) 2022 sebagai Seri Uang Terbaik (Best New Banknote Series) pada IACA Currency Awards 2023.
Kemudian, penghargaan untuk Uang Rupiah kertas pecahan Rp50.000 TE 2022 pada bulan November 2024 yang meraih peringkat ke-2 dunia untuk pecahan yang paling aman dan yang paling sulit dipalsukan di dunia (World’s Most Secure Currencies) dengan 17 unsur pengaman canggih versi BestBrokers.
Sebagaimana mandat langsung Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang dan menjaga keamanan masyarakat bertransaksi menggunakan uang rupiah, Ricky menegaskan bahwa bank sentral berkomitmen mendukung penuh seluruh upaya pemberantasan uang rupiah palsu.
Komitmen ini diwujudkan melalui pemberian klarifikasi atas uang rupiah yang diragukan keasliannya, yang diwujudkan melalui pemeriksaan oleh tenaga ahli maupun uji laboratorium.
Ricky menekankan, masyarakat memiliki peran yang semakin vital dalam mencegah peredaran uang rupiah palsu. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan semakin paham dalam memastikan keaslian uang rupiah kertas melalui metode "3D" yakni dilihat, diraba, dan diterawang.
Selain itu, BI juga mengimbau masyarakat untuk selalu merawat uang rupiah dengan baik agar tetap mudah dikenali keasliannya. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan langkah “5 Jangan”, yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas, dan jangan dibasahi.
Sumber: ANTARA