Semarang (KABARIN) - Ada kabar seru dari Semarang Zoo menjelang musim liburan sekolah. Kebun binatang milik Pemerintah Kota Semarang itu baru saja kedatangan anggota keluarga baru dari dua satwa favorit pengunjung, yakni kapibara dan sitatunga.
Direktur Semarang Zoo, Bimo Wahyu Widodo, mengatakan koleksi kapibara di kebun binatang tersebut baru saja melahirkan dua ekor anak. Kehadiran bayi kapibara ini menjadi tambahan koleksi satwa yang diharapkan bisa menarik lebih banyak pengunjung saat libur sekolah nanti.
Kapibara sendiri merupakan hewan pengerat terbesar di dunia yang belakangan semakin populer di media sosial karena tingkahnya yang santai dan menggemaskan.
Bimo menjelaskan, salah satu induk kapibara yang melahirkan merupakan satwa hasil pertukaran koleksi dengan Taman Margasatwa Ragunan pada pertengahan tahun lalu. Saat itu, Semarang Zoo menerima satu kapibara jantan dan dua kapibara betina.
Tak hanya kapibara, kabar gembira juga datang dari kandang sitatunga. Satwa jenis antelop yang didatangkan bersamaan dengan kapibara itu juga berhasil melahirkan seekor anak.
Dokter Hewan Semarang Zoo, drh. Nurul Fauziah, mengungkapkan bahwa kedua anak kapibara tersebut kini berusia hampir satu bulan dan berada dalam kondisi sehat.
"Kondisinya, alhamdulillah sehat, dan masih terpantau diasuh oleh induknya. Tapi belum bisa diketahui jenis kelaminnya kalau hanya dengan melihat saja," katanya.
Menurut Nurul, setiap kelahiran maupun kematian satwa di Semarang Zoo selalu dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Jika ada satwa yang mati, pihak kebun binatang juga wajib menyertakan hasil autopsi dalam laporannya.
Untuk menjaga kesehatan satwa, tim dokter hewan melakukan pemeriksaan secara rutin. Pemantauan dilakukan berdasarkan laporan dari para kiper atau penjaga satwa, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara langsung.
"Kami melihat keterangan dari para kiper-kipernya, kemudian kami cek sendiri satwanya. Nadi, nafas dan cek fisik. Biasanya kalau ada yang sakit pasti melawan kalau kita pegang," katanya.
Selain pemeriksaan rutin, pemberian vitamin dan variasi pakan juga menjadi faktor penting agar kondisi satwa tetap prima.
Sementara itu, Rizky, salah satu kiper yang merawat kapibara, mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam merawat hewan tersebut. Menurutnya, kapibara termasuk satwa herbivora yang cukup mudah dipelihara.
"Gampangnya karena hewan pengerat kan, kayak hewan pengerat lain, dia suka sayur-sayuran, full herbivora. Jadi, ikan nila dan lele di kolam tidak dimakan. Itu kita gunakan untuk membersihkan kolam biar tidak ada jentik nyamuk," katanya.
Rizky juga mengungkapkan bahwa kehamilan kapibara sebenarnya cukup sulit dikenali secara kasat mata. Namun karena sudah terbiasa berinteraksi setiap hari, ia bisa mengetahui perubahan perilaku dan bentuk tubuh satwa tersebut.
"Kami tahu dia bunting tapi secara visual memang tidak kelihatan. Kalau anaknya tidak sehat, ya ditinggal, tidak dimakan, full herbivora. Sejauh ini tidak ada kasus begitu, beda dengan tikus atau hamster," katanya.
Di tengah cuaca yang tidak menentu, perawatan kapibara juga membutuhkan perhatian khusus. Sebagai satwa semiakuatik, kapibara sangat bergantung pada ketersediaan air untuk berendam dan menjaga suhu tubuhnya tetap nyaman.
Dengan hadirnya bayi kapibara dan anak sitatunga yang baru lahir, Semarang Zoo berharap bisa memberikan pengalaman baru bagi pengunjung yang datang selama musim liburan sekolah. Kehadiran satwa-satwa baru ini juga menjadi bukti keberhasilan program perawatan dan pengembangbiakan satwa yang terus dilakukan oleh pengelola kebun binatang.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026