Prabowo Ingatkan Pemimpin Harus Kuat Dihujat dan Jangan Patah Semangat

waktu baca 2 menit

Aceh Tamiang (KABARIN) - Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa menjadi pemimpin berarti harus siap menerima kritik, hujatan, bahkan fitnah. Meski begitu, menurutnya, semua itu tidak boleh membuat semangat kerja luntur.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan arahan dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi. Pertemuan itu digelar di lokasi pembangunan Rumah Hunian Danantara di Aceh Tamiang, Aceh, Kamis.

Prabowo menyinggung adanya kecenderungan sebagian pihak yang kerap melihat langkah pemerintah dari sisi negatif. Ia mencontohkan kritik yang muncul saat pejabat datang ke lokasi bencana. Menurutnya, pemerintah sering dianggap salah, baik ketika hadir langsung maupun saat tidak datang ke lapangan.

Ia menjelaskan, kehadiran pemimpin di daerah terdampak bencana bertujuan untuk melihat kondisi nyata, mengetahui apa saja yang kurang, serta mencari solusi yang bisa segera dijalankan untuk membantu masyarakat.

Dengan turun langsung dan bertemu kepala daerah, pemerintah pusat bisa mendapatkan gambaran kebutuhan yang lebih jelas dan memastikan masalah di lapangan benar-benar dipahami.

"Pejabat datang, pemimpin datang melihat apa kekurangan, apa masalah, apa yang bisa kita bantu, mana yang kita bisa percepat kan begitu. Saya datang ketemu gubernur, gubernur sampaikan kita butuh ini, kita itu, Pak ada usul ini, ada saya tahu langsung saya bisa cek, kan begitu ceritanya," kata Prabowo.

Prabowo juga mengingatkan para menteri, pimpinan lembaga, dan kepala daerah bahwa menerima kritik adalah bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin. Namun, hal tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi dan kehati-hatian, bukan alasan untuk berhenti bekerja.

Ia menegaskan bahwa pola kerja pemerintah saat ini berfokus pada bukti dan hasil nyata. Menurutnya, kehadiran pejabat di lapangan bukan sekadar formalitas, tetapi untuk mengamati langsung, mencatat persoalan, dan mengambil keputusan yang dibutuhkan.

"Kita sekarang dalam rangka membuktikan. Jadi kalau ada menteri-menteri, pejabat turun, itu dia tidak turun untuk wisata. dia datang dia melihat, mencatat, mengerti mengambil keputusan, kan demikian," ujarnya.

Lebih jauh, Prabowo menekankan bahwa tujuan utama pemerintah adalah meringankan beban dan penderitaan masyarakat. Beragam kritik dan komentar negatif dipandangnya sebagai pengingat, tetapi tidak akan menghalangi pemerintah dalam mengurus kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

"Tugas kita, saya, walaupun tidak sehari-hari sama saudara ya, saya di pusat ya, saya berpikir bagaimana saya atasi ini, membantu saudara di lapangan. Tetapi sementara nasib 280 juta rakyat Indonesia tetap harus kita urus secara nasional," tutup Prabowo.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka