Jakarta (KABARIN) - Rupiah Jumat pagi ini dibuka melemah terhadap dolar AS, tercatat turun 38 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp16.725 per dolar pada pukul 10.34 WIB.
Di Jakarta, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut pelemahan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian di pasar global, terutama dari ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Beberapa konflik yang sempat mereda sepanjang tahun kini kembali membuat pasar waswas, meski efeknya biasanya singkat. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dalam perang Ukraina, konflik Israel-Hamas, dan ketegangan AS-Iran membuat kekhawatiran soal pasokan energi dunia kembali muncul.
"Secara terpisah, ketegangan antara Washington dan Caracas menambah ketidakpastian seputar ekspor Venezuela, yang sempat mendukung harga. Baru-baru ini, Uni Emirat Arab mengatakan akan menarik pasukannya dari Yaman setelah ketegangan memanas dengan sekutu Teluk, Arab Saudi, terkait operasi militer di negara yang dilanda perang tersebut," kata Ibrahim.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga merespons risalah rapat The Fed Desember 2025 yang menunjukkan pandangan berbeda di antara para pembuat kebijakan soal arah suku bunga tahun 2026.
Walau The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin, beberapa pejabat masih berhati-hati melanjutkan pelonggaran karena inflasi tinggi, sementara sebagian lainnya khawatir kebijakan terlalu ketat bisa menahan pertumbuhan ekonomi.
Di dalam negeri, Ibrahim menilai ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi tumbuh sekitar 5 persen, angka yang cukup stabil. Namun, pertumbuhan tidak bisa cuma mengandalkan konsumsi rumah tangga, investasi harus terus didorong supaya membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi jangka panjang.
"Pemulihan ekonomi domestik Indonesia masih belum maksimal karena tekanan harga komoditas pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih," ujarnya.
Dengan berbagai sentimen itu, Ibrahim memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif dan kemungkinan ditutup melemah di kisaran Rp16.680 hingga Rp16.710 per dolar AS.
Sumber: ANTARA