Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya di petik. Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai akan cepat busuk
Jakarta (KABARIN) - Harga cabai rawit merah yang melonjak di sejumlah pasar ternyata bukan karena produksi seret. Badan Pangan Nasional menyebut masalah utamanya justru ada di faktor cuaca dan tenaga kerja di lapangan.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menjelaskan secara nasional stok cabai sebenarnya aman. Namun hujan yang terus turun membuat proses panen terganggu, terutama saat pemetikan di sentra produksi.
“Produksi sebenarnya sangat cukup, tetapi masalahnya di petik. Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai akan cepat busuk,” kata Ketut seusai sidak di Pasar Minggu, Jakarta.
Selain hujan, faktor libur nasional juga bikin jumlah tenaga pemetik berkurang. Dampaknya, distribusi cabai ke pasar induk jadi tersendat, meski di tingkat petani stok masih tersedia. Kondisi inilah yang akhirnya bikin harga di pasar naik.
Bapanas menegaskan lonjakan harga ini bukan karena penimbunan atau permainan oknum pedagang. “Sesuai arahan Kepala Bapanas, tidak boleh ada penimbunan dan tidak boleh ada kenaikan harga yang tidak wajar," tegas Ketut.
Pengawasan terus dilakukan bersama Satgas Pangan Polri agar distribusi tetap sesuai aturan dan harga tidak makin liar. Ketut optimistis, kalau cuaca membaik dan aktivitas panen kembali normal, pasokan cabai bakal pulih dalam waktu dekat dan harga bisa turun perlahan.
Dari hasil pantauan di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai rawit merah saat ini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram. Angka ini sudah lebih rendah dibanding pekan sebelumnya yang sempat tembus Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis juga mencatat rata-rata harga nasional cabai rawit merah di pasar tradisional berada di sekitar Rp79.950 per kilogram.
Bapanas memastikan pemantauan akan terus dilakukan, apalagi menjelang Imlek dan Ramadan, supaya distribusi tetap lancar dan gejolak harga bisa dikendalikan secepat mungkin.
“Kami akan terus cek dan upayakan untuk melakukan beberapa hal untuk menjadi solusinya," tutup Ketut.
Sumber: ANTARA