Jakarta (KABARIN) - Kondisi ekonomi petani di Tanah Air menunjukkan sinyal positif menjelang penutupan tahun 2025. Badan Pusat Statistik mencatat nilai tukar petani atau NTP pada Desember 2025 berada di angka 125,35, naik 1,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan kenaikan ini terlihat dari hasil pemantauan harga di wilayah perdesaan yang dilakukan di 38 provinsi.
"Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 38 provinsi di Indonesia pada Desember 2025, NTP secara nasional naik 1,05 persen dibandingkan NTP November 2025, yaitu dari 124,05 menjadi 125,35," ujar Pudji di Jakarta, Senin.
Menurut BPS, perbaikan NTP dipicu oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani yang tumbuh lebih cepat dibandingkan indeks harga yang harus dibayar petani. Pada Desember 2025, indeks harga yang diterima petani naik 2,08 persen menjadi 157,94, sementara indeks harga yang dibayar petani meningkat 1,02 persen menjadi 126.
Sejumlah komoditas tercatat memberi kontribusi besar terhadap kenaikan tersebut, di antaranya gabah, cabai rawit, biji kakao, serta ayam ras pedaging.
Jika dilihat per subsektor, kenaikan NTP paling tinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang melonjak 14,48 persen. Subsektor peternakan juga mencatat kenaikan 0,77 persen, disusul subsektor perikanan sebesar 0,42 persen.
Namun, tidak semua subsektor bergerak naik. NTP subsektor tanaman pangan turun tipis 0,14 persen, sementara subsektor perkebunan rakyat mengalami penurunan lebih dalam sebesar 1,25 persen.
Sebagai informasi, NTP merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan petani. Indikator ini kerap digunakan untuk mengukur kemampuan daya beli petani di perdesaan serta melihat posisi tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa kebutuhan hidup maupun biaya produksi.
Sementara itu, BPS juga mencatat pergerakan harga beras yang cenderung naik. Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Desember 2025 meningkat 1,26 persen secara bulanan dan melonjak 6,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Untuk beras premium, kenaikan harga tercatat lebih tinggi, yakni 2,62 persen secara bulanan dan 6,92 persen secara tahunan. Sedangkan beras medium naik 0,67 persen secara bulanan dan 6,72 persen secara tahunan.
Di tingkat grosir, inflasi beras pada Desember 2025 tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 5,00 persen secara tahunan. Sementara di tingkat eceran, inflasi beras mencapai 0,18 persen secara bulanan dan 3,64 persen secara tahunan.
Sumber: ANTARA