Jakarta (KABARIN) - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ia tidak ragu untuk menerima kritik dan melakukan koreksi diri, terutama ketika ada yang menilai dirinya ingin menghidupkan kembali militerisme di Indonesia.
Di hadapan jemaat Kristiani saat Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta, Senin malam, Prabowo menyebut kritik dan koreksi justru menyelamatkan dirinya.
“Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi, saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak: Prabowo ini mau hidupkan kembali militerisme! Wah, baru saya koreksi. Apa bener? Oke, baru kita lihat, panggil ahli hukum, panggil di mana? Iya kan. Mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter,” ujar Prabowo.
Presiden menekankan bahwa ia bersyukur atas kritik dan koreksi karena itu berarti dirinya mendapat pengawasan dari pihak lain.
“Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, tetapi sesungguhnya itu mengamankan,” kata Prabowo.
Ia memberi contoh sederhana dari koreksi anak buahnya.
“Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian, anak buah kita lari: Pak, seragam Bapak, Pak. Bapak kancingnya.... Lho, ini anak buah kok berani koreksi. Tetapi dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan Presiden muncul kancingnya tidak (lengkap, red.). Jadi, kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget nih. Tetapi dia menjaga saya. Dia menjaga saya. Berapa kali saya diselamatkan,” jelas Presiden.
Prabowo juga menceritakan pengalaman ketika masih aktif di TNI.
“Ini cerita waktu saya masih aktif (di TNI, red.) ya. Saya keluar dari ruangan mau apel. Nggak tahu saya sibuk atau apa, saya lupa pakai tanda pangkat. Lari anak buah saya, (kemudian berbicara ke saya, red.) Pak! Pak! Jangan keluar Pak! Tanda pangkat Bapak tidak lengkap. Oh iya. Jadi apa? Dia mengamankan saya,” tambahnya.
Meski terbuka menerima kritik, Prabowo menegaskan bahwa fitnah dan kebohongan tidak bisa diterima karena bisa menimbulkan kebencian dan perpecahan.
“Koreksi silakan, kritik bagus, tetapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga: Thou shalt not lie. Kebohongan itu tidak baik, apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa merusak kita semua. Kalau di agama Islam, ada itu ajarannya: Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” ujar Presiden.
Sumber: ANTARA