Jakarta (KABARIN) - Musisi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi, menegaskan dirinya tidak punya urusan pribadi dengan komika Pandji Pragiwaksono terkait candaan tentang fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam materi stand-up comedy.
Pernyataan ini muncul setelah pertunjukan spesial Pandji berjudul "Mens Rea" yang tayang di platform streaming, di mana salah satu segmennya menyebut Wapres Gibran terlihat seperti orang mengantuk.
"Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa kali urusan politik kita tidak selalu satu 'track', tapi kita temenan. Saya baik-baik aja sama dia, dan enggak punya personal issue, tidak ada urusan pribadi," kata Tompi saat memberikan keterangan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin.
Tompi mengaku pernah bekerja sama dan berdiskusi dengan Pandji, termasuk soal politik. Setelah menyaksikan pertunjukan dua jam itu, Tompi sepakat dengan materi yang mengulas kondisi politik tanah air.
"Hampir semuanya, secara umum saya setuju dengan kontennya. Seratus persen benar. Saya setuju dengan kontennya. Kegelisahannya itu adalah kegelisahan kita semua. Dan dia berhasil menyampaikan pesan itu dengan baik, gitu. Saya cuma menyayangkan satu hal aja," ungkap Tompi.
Meski setuju dengan isi materi, Tompi menyoroti kritik terhadap tokoh publik yang justru menyerang fisik seseorang. Menurutnya, kritik seharusnya diarahkan pada kinerja atau kebijakan, bukan penampilan.
Sebagai dokter bedah plastik, Tompi menjelaskan kondisi mata mengantuk Gibran merupakan bawaan lahir atau ptosis, di mana kelopak mata turun dan penglihatan tidak maksimal.
"Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat," jelas Tompi.
Tompi juga menulis pendapatnya di Instagram @dr_tompi bahwa menertawakan kondisi fisik orang bukanlah bentuk kritik cerdas.
"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir," tulisnya.
Unggahan ini mendapat respons dari Pandji yang justru memberikan apresiasi atas masukan tersebut, tanpa menunjukkan keberatan.
Sumber: ANTARA