Los Angeles (KABARIN) - Memasuki peringatan satu tahun rangkaian kebakaran hutan dahsyat di Los Angeles, para pakar kesehatan dari University of California, Los Angeles melaporkan dampak kesehatan fisik dan mental masih dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Dilansir dari laporan yang dirilis UCLA Health pada Senin waktu setempat, profesor tetap di David Geffen School of Medicine di UCLA, Dr. David Eisenman, MD, menyatakan bahwa peristiwa tersebut telah mengubah lanskap dan status kesehatan warga secara permanen.
"Tidak mengherankan, kita masih merasakan dampaknya dalam banyak hal. Keluarga-keluarga belum kembali ke rumah mereka, dan tingkat polutan yang tinggi masih menetap di masyarakat," ujar Dr. Eisenman.
Data menunjukkan bahwa rangkaian bencana yang dimulai pada 7 Januari 2025 itu telah menghanguskan lebih dari 55.000 hektar lahan, menghancurkan hampir 16.000 rumah, dan merenggut sekitar 440 korban jiwa.
Penurunan kualitas udara menjadi ancaman berkelanjutan bagi individu dengan kondisi pernapasan yang sudah ada perhatian medis sebelumnya.
Ahli paru dan profesor klinis di UCLA Health, Dr. May-Lin Wilgus mencatat adanya lonjakan kasus kekambuhan pada pasien asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
"Banyak individu melaporkan gejala mereka kambuh kembali enam bulan setelah kebakaran. Tampaknya paparan berkelanjutan, seperti kembali ke rumah yang rusak akibat asap atau menghadapi tingkat kontaminasi logam berat yang tinggi, menjadi pemicunya," jelas Wilgus.
Ia menyarankan penggunaan filter udara HEPA dan peningkatan kesadaran risiko kesehatan sebagai langkah antisipasi di masa depan.
Dalam aspek psikologis, profesor klinis psikiatri dan ilmu biobehavioral di David Geffen School of Medicine di UCLA, Emanuel Maidenberg, PhD, menekankan bahwa pemulihan trauma berjalan lebih lambat karena pengingat nyata akan bencana tersebut masih ada di lingkungan sekitar.
“Ini adalah peristiwa yang sangat traumatis yang membutuhkan waktu untuk pulih. Jadi, populasi ini mungkin mengalami pemulihan yang lebih lambat karena pengingatnya selalu ada, dan kehidupan mereka telah berubah," Maidenberg melanjutkan.
Maidenberg mengatakan pemulihan masyarakat akan berlanjut, terutama dengan dukungan dari perluasan layanan kesehatan mental.
“Seiring waktu, orang akan lebih jarang membicarakannya, dan kita akan lebih jarang memikirkannya,” jelasnya. “Namun saya rasa kita semua sedikit lebih berhati-hati, cemas, dan menyadari guncangan awal, serta emosi yang berkembang seperti kesedihan, ketakutan, dan kehilangan," Maidenberg menandaskan.
Eisenman, sementara itu, menambahkan bahwa warga yang kehilangan tempat tinggal juga dilaporkan mengalami stres signifikan terkait pengurusan klaim asuransi dan pembangunan kembali rumah.
“Hal ini telah menyebabkan banyak gangguan pada pendidikan anak-anak, cuti kerja, dan stres yang signifikan terkait dengan pengurusan klaim asuransi dan pembangunan kembali rumah, sementara keluarga masih berusaha mengatasi trauma,” kata Dr. Eisenman.
Guna memahami konsekuensi jangka panjang, Dr. Eisenman bersama Dr. Arash Naeim membentuk UCLA Wildfire Impacted Communities Research Registry yang melakukan studi melibatkan sekitar 4.440 partisipan.
Studi itu secara khusus meneliti dampak fisik dan mental bagi warga yang memilih bertahan di rumah untuk melindungi properti mereka dibandingkan melakukan evakuasi segera.
Menutup laporan tersebut, Eisenman menekankan bahwa kunci menghadapi bencana di masa depan adalah ketahanan dan persatuan komunitas. Dia berkata bahwa belajar melakukan evakuasi dengan aman dan saling mendukung satu sama lain dinilai sangat krusial dalam memperkuat ketahanan masyarakat.
Sumber: ANTARA