Apartemen Bali Jadi Magnet Investor Rusia dan Digital Nomad Asing

waktu baca 3 menit

Mereka memang sudah banyak di Bali dan juga biasanya karena Singapura dekat, jadi mereka sistemnya bekerja dari jarak jauh (digital nomad) untuk melaksanakan pekerjaan dari Bali,

Jakarta (KABARIN) - Minat terhadap apartemen di Bali terus meningkat, terutama dari investor dan warga negara Rusia. Hal ini diungkapkan perusahaan konsultan properti Colliers Indonesia yang melihat tren tersebut semakin jelas di lapangan.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan banyak proyek apartemen di Bali saat ini dibangun oleh investor asal Rusia. Menurutnya, kondisi tersebut memang terlihat nyata dari perkembangan properti di sejumlah kawasan wisata.

"Kalau investor yang membangun sekarang memang banyak dari Rusia. Kita lihat memang kenyataan di lapangan seperti itu," ujar Ferry dalam pemaparan media secara daring di Jakarta, Rabu.

Tak hanya membangun, warga Rusia juga tercatat aktif menyewa apartemen di Pulau Dewata. Selain Rusia, peminat sewa apartemen juga datang dari Australia dan Singapura. Ferry menyebut kedekatan jarak dan tren kerja jarak jauh membuat Bali jadi pilihan favorit para pekerja digital.

"Mereka memang sudah banyak di Bali dan juga biasanya karena Singapura dekat, jadi mereka sistemnya bekerja dari jarak jauh (digital nomad) untuk melaksanakan pekerjaan dari Bali," kata Ferry.

Di Bali, apartemen tidak lagi dipandang sekadar tempat tinggal. Properti jenis ini lebih diposisikan sebagai produk gaya hidup. Sebagian besar proyek berada di kawasan wisata seperti Canggu, Ubud, dan Nusa Dua. Pengembang menjual pengalaman, mulai dari konsep wellness, aktivitas rekreasi, liburan keluarga, hingga fasilitas menginap jangka panjang bagi digital nomad.

Ferry menjelaskan, unit berukuran kecil masih menjadi primadona pasar. Tipe studio dan satu kamar tidur mendominasi karena dinilai paling cocok untuk wisatawan jangka menengah sekaligus investor.

"Tren yang paling jelas saat ini adalah unit kecil masih jadi pilihan utama terutama di tipe studio dan satu kamar tidur yang mendominasi pasar karena memang paling cocok untuk turis jangka menengah dan investor," ujarnya.

Berbeda dengan kota besar seperti Jakarta atau Surabaya yang menyasar pembeli untuk dihuni sendiri, apartemen di Bali lebih diarahkan sebagai properti sewaan untuk pariwisata. Ukuran unit yang ringkas dianggap lebih sesuai dengan gaya hidup penghuni yang lebih banyak beraktivitas di luar.

Dari sisi pengembangan, pengembang kini lebih sering memilih skema redevelop, yaitu memanfaatkan bangunan lama di lokasi strategis, dibanding membangun dari nol. Cara ini dinilai lebih cepat dan relatif aman dari sisi regulasi.

Bali juga memiliki karakter aturan yang berbeda. Skema kepemilikan apartemen umumnya berbasis hak sewa, bukan Hak Guna Bangunan seperti di kota lain. Selain aturan nasional, pengembang dan investor harus memperhatikan ketentuan adat setempat.

"Seperti saya sebutkan tadi tidak hanya terpaku pada aturan-aturan secara hukum nasional tapi juga harus mempertimbangkan hukum adat karena di Bali ini memang agak berbeda dengan kota lain. Apalagi sekarang ini aturan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sekarang makin ketat sehingga legalitas jadi faktor penentu," kata Ferry.

Ia menambahkan, pasar apartemen Bali ke depan diperkirakan tetap stabil namun semakin selektif. Tidak semua proyek akan memiliki performa yang baik. Menurut Ferry, proyek yang unggul pada 2026 adalah yang kuat dari sisi legalitas, memiliki konsep jelas, dan benar-benar sesuai dengan karakter lokasi.

"Tahun 2026 yang akan unggul adalah proyek yang jelas dari sisi legalnya, konsepnya juga kuat dan benar-benar nyambung dengan karakter lokasinya. Jadi memang Bali ini bukan pasar spekulatif, tapi ini adalah pasar yang menuntut ketepatan strategi," ujarnya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka