Kamboja Ekstradisi Bos Judi Online Kelas Kakap ke China

waktu baca 4 menit

Beijing (KABARIN) - Pemerintah Kamboja mengonfirmasi telah menangkap seorang pengusaha besar yang diduga menjadi otak perjudian daring berskala masif dan langsung menyerahkannya kepada otoritas China.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan penangkapan pimpinan Prince Holding Group Chen Zhi di Kamboja lalu ekstradisinya ke China merupakan bagian dari komitmen bersama dalam memerangi kejahatan judi online.

“Selama beberapa waktu, China telah aktif bekerja sama dengan negara-negara termasuk Kamboja untuk menindak kejahatan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi dengan hasil yang signifikan. Pemberantasan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi adalah tanggung jawab bersama komunitas internasional,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Kamis 8 Januari.

Kementerian Dalam Negeri Kamboja menjelaskan Chen Zhi yang berusia 38 tahun ditangkap bersama dua warga negara China lainnya pada Selasa 6 Januari setelah adanya permintaan resmi dari Beijing. Ketiganya kemudian diekstradisi ke China.

Media televisi pemerintah China menggambarkan Chen sebagai pemimpin jaringan kriminal besar yang bergerak di bidang perjudian dan penipuan lintas negara.

Chen diketahui lahir di China sehingga berstatus warga negara China. Ia sempat mengantongi kewarganegaraan Kamboja, namun status tersebut telah dicabut. Selain di China, Chen juga menghadapi berbagai dakwaan dari Amerika Serikat dan Inggris terkait kasus penipuan dan pencucian uang.

“China siap bekerja sama dengan negara-negara tetangga termasuk Kamboja untuk meningkatkan kerja sama penegakan hukum, melindungi keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat serta menjaga pertukaran dan kerja sama antara negara-negara kawasan,” kata Mao Ning.

Jaksa Amerika Serikat menuduh Chen sebagai dalang penipuan siber internasional yang memanfaatkan berbagai bisnis sebagai sarana pencucian uang dan melakukan kekerasan terhadap pekerja.

Otoritas AS juga telah menyita aset milik Chen Zhi berupa properti dengan nilai sedikitnya 100 juta dolar AS serta aset kripto senilai sekitar 14 miliar dolar AS.

Chen dituding menipu sekitar 250 warga Amerika dengan kerugian jutaan dolar. Salah satu korban bahkan dilaporkan kehilangan hingga 400.000 dolar AS dalam bentuk mata uang kripto.

Prince Group disebut memiliki lebih dari 100 lini bisnis yang tersebar di 30 negara. Jaringan pusat penipuannya disebut beroperasi terutama di Kamboja dan Myanmar, dengan korban berasal dari berbagai negara.

Di Inggris, pihak berwenang membekukan aset dan bisnis Chen, termasuk rumah mewah senilai 12 juta euro serta gedung perkantoran bernilai 100 juta euro di London.

Singapura juga mulai menyelidiki Chen pada 30 Oktober setelah menyita aset keuangan lebih dari 150 juta dolar Singapura dan sebuah kapal pesiar.

Sementara itu di Taiwan, polisi menyita 26 mobil mewah seperti Ferrari, Bugatti, dan Porsche. Otoritas Hong Kong juga mengamankan sejumlah aset keuangan. Ketiga wilayah tersebut masih melakukan penyelidikan lanjutan.

Hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai dakwaan yang akan dihadapi Chen di China. Namun media setempat menyebut Chen Zhi sebagai otak salah satu jaringan penipuan daring lintas negara terbesar.

Kelompok kriminal yang dipimpinnya disebut menggunakan perusahaan legal sebagai kedok. Mereka menjalankan berbagai modus penipuan, termasuk skema sha zhu pan atau penipuan asmara dan investasi, untuk mengelabui korban sebelum uang hasil kejahatan dialihkan melalui mata uang kripto.

Chen Zhi dilaporkan lahir pada 1987 di sebuah desa nelayan di Provinsi Fujian dan tidak menamatkan pendidikan menengah sebelum merantau.

Ia sempat mendirikan perusahaan gim daring dan terlibat dalam pembajakan server gim ilegal. Pada 2010, Chen melarikan diri ke Kamboja sambil membawa hasil kejahatan dan membangun identitas baru sebagai pengembang properti. Empat tahun kemudian, ia memperoleh kewarganegaraan Kamboja.

Pada 2015, Chen mendirikan Prince Group yang awalnya fokus pada sektor properti. Bisnisnya kemudian melebar dengan mendirikan Prince Bank dan bahkan maskapai penerbangan di Kamboja pada 2020.

Sejak 2017, Chen pernah menjabat sebagai penasihat sejumlah menteri hingga perdana menteri. Media Kamboja kerap menggambarkannya sebagai “dermawan yang murah hati”.

Prince Group sebelumnya membantah terlibat dalam penipuan dan mengklaim telah memutus hubungan dengan kawasan penipuan daring. Namun laporan media menyebut hingga 2025, Prince Group masih mengendalikan lebih dari 10 lokasi ilegal di Kamboja.

Dua lokasi di antaranya disebut memiliki peternakan ponsel dengan sekitar 1.250 unit perangkat dan mengoperasikan lebih dari 76.000 akun media sosial palsu untuk menjerat korban.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka