Tentu enggak ada masalah. Kan tahun kemarin udah ditutup dan defisitnya masih aman. Masih di bawah 3 persen
Jakarta (KABARIN) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai defisit APBN 2025 yang berada di angka 2,92 persen dari produk domestik bruto masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu kepercayaan investor.
Ia menegaskan posisi tersebut tetap aman karena belum menyentuh batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam undang undang.
“Tentu enggak ada masalah. Kan tahun kemarin udah ditutup dan defisitnya masih aman. Masih di bawah 3 persen,” kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Jumat.
Data sementara hingga 31 Desember 2025 menunjukkan defisit APBN mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen dari PDB. Angka ini memang lebih lebar dibanding target awal 2,53 persen maupun proyeksi semester yang berada di level 2,78 persen, namun masih belum melewati ambang batas.
Airlangga menilai pelebaran defisit tersebut masih bisa dimaklumi karena kinerja penerimaan negara tergolong tinggi.
“Ya kan tentu kita lihat juga penerimaan kita kan mendekati 91,7 persen. Jadi itu wajar saja. Yang paling penting kita kejar pertumbuhan. Nah pertumbuhan kan kaitannya direct terhadap employment, penciptaan lapangan kerja. Jadi itu yang kita dorong,” ujarnya.
Ia juga optimistis laju ekonomi pada kuartal IV 2025 akan tampil paling kuat dibanding kuartal sebelumnya sehingga target pertumbuhan secara keseluruhan bisa mendekati rencana APBN.
“Kita lihat, tetapi pertumbuhan di kuartal IV itu di antara kuartal kuartal sebelumnya tumbuh bisa menjadi yang tertinggi. Sehingga mungkin secara keseluruhan target daripada APBN untuk pertumbuhan bisa mendekati,” kata Airlangga.
Dari sisi pendapatan, realisasi sementara negara mencapai Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target Rp3.005,1 triliun. Penerimaan perpajakan menyumbang Rp2.217,9 triliun atau sekitar 89 persen dari target, dengan rincian pajak Rp1.917,6 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp300,3 triliun.
Sementara itu penerimaan negara bukan pajak mencatatkan kinerja di atas target dengan capaian Rp534,1 triliun atau 104 persen. Penerimaan hibah juga melonjak menjadi Rp4,3 triliun atau lebih dari tujuh kali lipat target.
Di sisi belanja, pengeluaran negara terealisasi Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu APBN. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp2.602,3 triliun, sedangkan transfer ke daerah tercatat Rp849 triliun.
Realisasi keseimbangan primer masih mengalami defisit Rp180,7 triliun, lebih lebar dari target awal. Untuk pembiayaan anggaran, pemerintah mencatat realisasi Rp744 triliun dengan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran sebesar Rp48,9 triliun.
Sumber: ANTARA