Jakarta (KABARIN) - Memenuhi tiga kebutuhan psikologis dasar di lingkungan kerja dapat meningkatkan motivasi, kinerja, dan kesejahteraan karyawan. Kesimpulan tersebut diperoleh dari tinjauan terhadap 1.192 penelitian yang dilakukan selama 35 tahun.
Dikutip dari Psychology Today, hasil tinjauan menunjukkan pekerja cenderung berkembang ketika kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial terpenuhi, tanpa dipengaruhi jenis pekerjaan, usia, maupun tahap karier.
Peneliti menjelaskan pekerja akan lebih termotivasi jika diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan dalam pekerjaannya, bukan terus-menerus diawasi atau dikendalikan.
Sebaliknya, pengawasan yang berlebihan dapat menurunkan motivasi karena membuat pekerja merasa kehilangan kendali atas pekerjaannya.
Selain otonomi, kesempatan untuk mengembangkan kompetensi juga menjadi faktor penting. Pekerja membutuhkan ruang untuk meningkatkan keterampilan, memperoleh umpan balik yang membangun, serta merasa mampu menghadapi tantangan dalam pekerjaannya.
Menurut peneliti, motivasi akan lebih mudah menurun jika pekerjaan terasa membingungkan, terlalu berat, atau tidak memberikan peluang untuk berkembang.
Kebutuhan psikologis ketiga adalah keterhubungan sosial. Dukungan dari rekan kerja, atasan yang terbuka untuk mendengarkan, serta rasa memiliki di lingkungan kerja dinilai berperan besar dalam menjaga motivasi dan kesejahteraan karyawan.
Temuan ini dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya sistem kerja jarak jauh dan hibrida yang menawarkan fleksibilitas, tetapi berpotensi mengurangi interaksi sosial antarpekerja.
Peneliti juga menemukan bahwa kualitas motivasi lebih penting dibandingkan besarnya motivasi. Pekerja yang terdorong oleh rasa senang dan makna dalam pekerjaan umumnya memiliki kinerja dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan mereka yang bekerja karena tekanan, rasa bersalah, imbalan, atau ketakutan.
Sebaliknya, pekerja yang merasa kehilangan kendali, kewalahan menghadapi beban kerja, atau terisolasi dari lingkungan kerja memiliki risiko lebih tinggi mengalami burnout, menurunnya keterlibatan dalam pekerjaan, hingga keinginan untuk mengundurkan diri.
Selain itu, peneliti menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sebaiknya dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan psikologis pekerja, bukan justru mengurangi rasa memiliki kendali, kesempatan berkembang, maupun hubungan sosial di tempat kerja.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pekerja disarankan terus mengembangkan keterampilan baru, memperkuat hubungan dengan rekan kerja, mengaitkan pekerjaan dengan nilai pribadi, serta aktif berdiskusi mengenai cara bekerja agar kebutuhan psikologis mereka dapat terpenuhi.
Sumber: Psychology Today