Rusia Sebut Penangkapan Maduro Jadi Krisis Besar dalam Hubungan Internasional

waktu baca 2 menit

Moskow (KABARIN) - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menilai penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro merupakan bencana besar bagi hubungan internasional.

“Tahun ini dimulai dengan penuh gejolak. Yang terutama akan dikenang dari awal tahun ini adalah penculikan Maduro. Tentu saja ini merupakan tindakan lancang dan tercela, atau jika diungkapkan secara lebih lugas, sebuah bencana universal dalam hubungan internasional,” tulis Medvedev melalui akun Telegram-nya.

Medvedev menyebut ada dua kemungkinan skenario bagi nasib Maduro dalam waktu dekat.

“Hari ini hanya ada dua skenario. Pertama, Amerika Serikat secara diam-diam membebaskan presiden Venezuela yang diculik dengan alasan yang masuk akal, meski kemungkinannya sangat kecil," kata Medvedev

"Kedua, ia akan menjadi Mandela baru dari Amerika Latin, yang paling mungkin terjadi. Namanya kemudian akan tercatat dalam sejarah Amerika Selatan sejajar dengan Bolivar, Miranda, dan Chavez,” tambahnya

Menurut Medvedev, Wakil Presiden AS JD Vance atau penerus Donald Trump pada akhirnya bisa memberi pengampunan kepada Maduro di bawah tekanan publik.

Ia juga menilai minyak menjadi alasan utama tindakan Amerika Serikat di Venezuela, namun persoalan itu tidak akan mudah diselesaikan.

“Ya, minyak merupakan faktor kunci. Namun, bahkan itu pun tidak akan mudah. Bagaimana jika otoritas Venezuela saat ini enggan membagikan minyaknya kepada Amerika Serikat dalam waktu lama?" katanya

"Apakah Trump benar-benar akan melancarkan operasi darat? Kongres pasti akan dilibatkan, dan itu akan jauh lebih berdarah dibandingkan penculikan Maduro yang terang-terangan,” kata Medvedev sambil menyatakan keraguannya bahwa pemerintahan AS saat ini ingin skenario tersebut.

Pada 3 Januari, Amerika Serikat melakukan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, kemudian membawa keduanya ke New York.

Trump mengumumkan bahwa keduanya akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narkoterorisme dan dianggap ancaman, termasuk bagi Amerika Serikat.

Venezuela meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat, sementara Mahkamah Agung Venezuela mengalihkan tugas kepala negara kepada Wakil Presiden Delcy Rodriguez yang dilantik sebagai presiden sementara pada 5 Januari.

Rusia, China, dan Korea Utara mengecam tindakan AS, dengan Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya kepada rakyat Venezuela serta menuntut pembebasan Maduro dan istrinya, dan menyerukan agar eskalasi lebih lanjut dicegah.

Sumber: Sputnik_OANA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka