Jakarta (KABARIN) - Nilai tukar rupiah dibuka melemah 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.847 per dolar AS pada Senin pagi di Jakarta dari posisi sebelumnya Rp16.819 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah punya potensi menguat setelah pemerintahan AS memulai penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell.
“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” kata Lukman, Senin.
Federal Reserve mengonfirmasi pada Minggu malam bahwa jaksa federal AS sedang meneliti Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral yang bernilai miliaran dolar. Powell menyebut dalam pernyataan resmi bahwa Departemen Kehakiman pada Jumat mengirimkan surat panggilan pengadilan, “mengancam dakwaan pidana terkait kesaksian saya di hadapan Komite Perbankan Senat Juni lalu. Kesaksian itu sebagian berkaitan dengan proyek multi-tahun untuk merenovasi gedung-gedung kantor Federal Reserve yang bersejarah.”
Menurut Powell, langkah tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dan perlu dilihat sebagai tekanan terhadap independensi The Fed. Lukman menambahkan, “Tindakan ini dianggap intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat, rupiah bisa volatile kedua arah.”
Di sisi lain, data ekonomi AS secara umum tetap kuat. Pasar tenaga kerja menambah 50 ribu lapangan kerja pada Desember 2025, sedikit di bawah ekspektasi 60 ribu, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,4 persen. Data izin pembangunan perumahan naik menjadi 1,41 juta unit, lebih tinggi dari perkiraan 1,35 juta, dan tingkat kepercayaan konsumen tercatat 54, mengungguli estimasi 53,5.
Sumber: ANTARA